Kamis, 23 Desember 2010

Pemanfaatan Paket Multimedia Dalam Sistem Pembelajaran Jarak Jauh: Pengalaman Universitas Terbuka

Pemanfaatan Paket Multimedia Dalam Sistem Pembelajaran Jarak Jauh: Pengalaman Universitas Terbuka

Sistem Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, khususnya pada jenjang Perguruan Tinggi memperhatikan hal-hal berikut untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas:
1.        kurikulum yang ramping efisien dan efektif, yaitu dengan tujuan kurukuler yang sesuai dengan kebutuhan stakeholders.
2.        system pendidikan yang multi entri dan multi exit
3.        system pendidikan sepanjang hayat.
4.        tutorial yang inheren
5.        system alih kredit yang adil dan sistematis
6.        system evaluasi yang berkualitas
7.        system komunikasi dan informasi yang intergratif
8.        penerapan teknologi komunikasi informasi yang canggih dalam pembelajaran

            Universitas terbuka atau UT merupakan institusi pendidikan tinggi yang ,menerapkan pendidikan terbuka dan jarak jauh. Pada awal berdirinya, UT menggunakan media cetak sebagai media utama. Pada perkembangannya UT menyadari perlunya dikembangkan bahan ajar yang memungkinkan intensitas interaksi yang lebih tinggi antara mahasiswa dan bahan ajar.
              Penyelenggaraan pendidikan dengan sistem jarak jauh (PJJ) tidak dapat dilepaskan dari peran media. Keagan 1991 menekannkan pentingnya penggunaan media dalam PJJ sebagai konsekuensi dari adanya keterpisahan antara sumber belajar dan peserta belajar.
            Pengertian dan jenis media

Media adalah alat komunikasi yang digunakan untuk membawa informasi yang dimaksudkan untuk pembelajaran  ( Heinich,dkk., 1996 ). Dalam sebuah penyelenggaraan system PTJJ, media merupakan sebuah prasyarat yang diperlukan untuk menjembatani keterpisahan antara pengajar dan perserta didik.

Jenis media dalam Pembelajaran Terbuka Jarak Jauh terdapat 2 bentuk , yaitu
v     Media Cetak
v    Media non Cetak

Media Cetak

     Media cetak sebagai media yang relatif ekonomis dan mudah dijangkau mahasiswa diasumsikan sebagi media yang tidak mempunyai kemampuan untuk berinteraksi langsung dengan pesrta ajar. Pada kenyataannya media cetak dapat dikembangkan menjadi media yang interaktif. Interaksi tersebuukan sesuatu yang bert dapat berbentuk pertanyaan beserta latihan,  umpan balik, atau meminta peserata ajar untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan materi

     Sampai saat ini, Media yang sering digunakan di UT adalah media cetak. Materi ajar dikemas dalam bentuk Buku Materi Pokok ( BMP ).
BMP dan modul didesain dengan memperhatiakan kebutuhan peserta ajar untuk berinteraksi dengan materi ajar. Pemanfaatan system modular mempunyai makna bahwa materi ajar dapat dipelajari bagian per bagian secara runtut dan berkesinambungan.  Secara lebih rinci Megger ( 1995 ) mengungkapkan beberapa komponen penting dalam bahan ajar yang mengguanakan system modular . Komponen tersebut antara lain :
1.        Deskripsi materi ajar secara menyeluruh ( program picture )
2.        Tujuan pembelajar yang akan dicapai (objektif)
3.        Manfaat dan relevansi materi ajar ( relevance )
4.        Contoh kompetensi yang akan dimiliki setelah mempelajari modul ( demo )
5.        materi ajar ( instruction )
6.        Umpan balik ( feedback )
7.        Cara untuk menguji keterampilan yang telah dipelajari.

            Dengan kemampuan berpenampilan demikian, maka wajarlah media cetak mampu berperan sebagai media yang paling banyak digunakan serta mampu mempertahankan peranannya dalam PTJJ. Maka modul disusun dalam systematika sebagai berikut.

1.        Halaman sampul ( cover page )
2.        Halaman Perancis
3.        Daftar isi
4.        Tinjauan Mata Kuliah
5.        Modul1
1.        Pendahuluan
2.        Kegiatan Belajar 1
1.         
1.        Topik
2.        Latihan dan Petunjuk jawaban Latihan
3.        Rangkuman
4.        Tes Formatif dan Feed back

1.        Kegiatan Belajar 2 dst

1.        Kunci tes formatif
2.        Daftar Rujukan
3.        Modul 2 dst




Penjelasan singkat fungsi bagian-bagian dalam sistematis tersebut adalah sebagai berikut:

1.        Halaman Sampul ( Cover Page )

Halaman sampul memuat informasi kode mata kuliah, jumlah sks untuk mata kuliah tersebut dan jumlah modul dalam BMP tersebut, diikuti oleh nama mata kuliah dan penulis serta tahun vetak BMP.

1.        Halaman Perancis

Pada halaman ini tercantum pemegang hak cipta, riwayat percetakan modul, dan KDT (  Katalog Dalam Terbitan). BMP pada perpustakaan UT

1.        Daftar  Isi

Pada daftar isi, dapat dijumpai urutan materi yang ada dalam BMP disertai halaman dimana mahasiswa dapt menemukan materi tersebut

1.        Tinjauan Mata Kuliah

Tinjauan Mata Kuliah memberikan gambaran keseluruhan materi secara sepintas. Pada umumnnya Tinjauan Mata Kuliah berisi deskripsi singkat mata kuliah, kegunaan mata kuliah , bagi mahasiswa susunan materi ( dari awal sampai akhir ). Serta petunjuk bagi mahasiswa untuk mempelajari BMP tersebut.

1.        Modul 1

Setiap modul terdiri dari Pendahuluan, beberapa kegiatan belajar ( tergantung topic yang dibahas ), jawaban Tes Formatif dan Daftar Rujukan . Secara umum satu modul membahs satu sampai tiga topic.

1.        Pendahuluan

Bagian Pendahuluan berisi deskripsi singkat dari topic yang akan dibahas dalam modul, relevansi topic dengan mata kuliah, dan tujuan instructional yang ditargetkan untuk dicapai oleh mahasiswa. Bagian pendahuluan ini dapat dikatakan versi mini dari tinjauan mata kuliah, bedannya ruang lingkup Pendahuluan hanya mencakup sebagian kecil dari ruang lingkup tinjauan mata kuliah.

1.        Kegiatan Belajar

Dalam satu Kegiatan Belajar, mahasiswa akan mendapatkan penjelasan tentang materi yang dilengkapi Latihan, Rangkuman, dan Tes Formatif.



1.        Kunci Tes Formatif

Berisi jawaban tes formatif yang dilengkapi dengan penjelasan untuk membantu mahasiswa memahami jawaban yang benar adalah jawaban tertentu.




1.        Daftar Rujukan

Daftar rujukan memuat buku dan sumber lain yang digunakan dalam menulis modul yang disusun secara alfabetis




Media Non Cetak
            Secara umum, media non cetak dapat dikelompokkan ke dalam audio,video, dan Komputer.Berikut ini penjelasan mengenai ketiga ragam media non cetak :

1.         Audio

Dalam hampir semua proses pendidikan, jenis suara yang paling banyak digunakan adalah suara manusia. Dubridge ( 1983 ) menyatakan bahwa suara manusia mempunyai kualitas tertentu yang tidak dimiliki oleh media cetak. Suara manusia mampu memberikan intonasi, tempo, volume, dan penekanan , yang kesemuanya sangat berarti alam proses pembelajaran. Keunggulan yang dimiliki oeh suara manusia ini mampu ditransfer melalui media audio yang dikenal sebagai media yang murah,dan mudah diakses. Dalam sistem pembelajaran jarak jauh, media audio dikategorikan dalam progam audio yang dapat dikemas dalam bentuk program audio kaset dan siaran radio. Walaupun keduannya memiliki kesamaan mulai dari perkembangan naskah sampai dengan produksinya, tetapi keduanya memiliki perbedaan yang jelas. Perbedaan dasar media audio audio kaset dengan media radio adalah dalam hal penggunaan serta fomat penyajian. Dari sisi penggunaanya pada program audio kaset, kendali terletak pada peseta didik. Mereka leluasa untuk menghidupkan, mematikan, mengulang dan mempercepat program yang mereka dengarkan sesuai keinginan mereka. Hal seperti ini tidak terjadi pada siaran radio, dimana peserta didik tidak memliki kendali. Walaupun dikenal sebagi media sederhana, keberadaan media audio kaset dalam sistem pembelajaran jarak jauh dinilai cukup efektif dan banyak disukai.
Menurut Rowntree tahun (1994), format penyajian audio kaset ini, secara garis besar dibedakan dalam 3 bentuk penyajian yaitu :
1.        Hanya mendengar
2.        Mendengar dan melihat
3.         Mendengar, melihat dan melakukan

Program audio kaset yang melibatkan fasilitas untuk melihat atau bahkan melakukan sesuatu mempunyai kekuatan pengajaran yang bersifat interaksi dan lebih mudah diikuti.
Radio merupakan media yang memiliki aksesibilitas tinggi. Radio digunakan karena 2 hal. Biaya produksi yang leboh murah dibandingkan dengan media lain dan kemampuannya dalam menjangkau daerah yang lebih luas dan terpencil.Variabel yang perlu diawspadai dalam penggunaan radio dalam media pembelajaran adalah sifat radio yang transistori, dimana materi ajar yang disiarkan melalui radio cepat berlalu dan mudah dilupakan. Dengan demikian, media radio lebih tepat digunakan untuk menyampaikan materi ajar yang bersifat umum auditif dan konkrit, sehingga lebih mudah diterima. Sementara itu kaset audio dapat dianfaatkan untuk meminimalkan keterbatasan radio.

2.Video
Materi yang dikemas dalam bentuk video ( moving pictures).Denagn atau tanpa suara dapat ditampilkan dalam televisi dan video kaset. Media video / televisi mampu menyajikan pengalaman pada peserta didik, misalnya :
1.        Mendemonstrasikan praktikum,eksperimen, materi pelajaran yang bersifat keterampilan,
2.        Menyediakan berbagai informasi berdasarkan sumber nyata ( real live resources)
3.        Menggantikan kegiatan field study.

3.      Media Komputer
Salah satu kelemahan penyelenggaraan sistem PTJJ adalah minimnya umpan balik yang dapat diperoleh peserta didik tentang proses atau hasil belajar yang telah mereka tempuh. Hal ini disebabkan interaksi langsung antara pengajar dan peserta didik relatif rendah.Potensi media komputer yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan efektifitas proses pembelajaran pada sistem PTJJ antara lain :
1.        Memungkinkan terjadinya interksi langsung antara peseta didik dan materi pembelajaran.
2.        Proses belajar dapat berklangsung secara individual sesuai denga kemampuan belajar peserta didik.
3.        Mampu menampilkan unsur audio visual untuk meningkatkan minat belajar (multimedia).
4.        Dapat memberikan umpan balik terhadap respon peserta didik denga segera.
5.        Mampu menciptakan proses belajar berkesinambungan.

D. Paket Bahan Ajar multimedia
Seperti telah dijelaskan di muka . bahwa media cetak. Memiliki keunggulan untuk digunakan sebagai si]stem pembelajaran jarak jauh. Umumnya media cetak digunakan sebagai berisikan materi utama . sementara media lain berfungsi sebagai media yang menyampaikan materi penjelasan. Proses belajar interaktif dapat dirancang dengan mengkombinasikan dua jenis media yang secara fisik tidak dikenal sebagai media yang memiliki fungsi interaktif. Pada model listening and looking, peserta ajar diberi kesempatan untuk melihat dan atau membaca teks yang secara bersamaan mendengarkan audio kaset. Pada model listening, looking, doing, selain mendengar dan melihat, mahasiswa diperkaya dengan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu. 

                                                Kesimpulan :
Belajar dapat dilakukan dimana saja.Pembelajaran tidak harus dilakukan secara tatap muka. Kendala jarak dan kendala waktu dapat diatasi dengan Sistem Pembelajaran Jarak Jauh.dan menggunakan media yang tepat. 
                                                Referensi:
Dewi Padmo dkk ( editor ).Teknologi pembelajaran, peningkatan kualitas pembelajaran melaui Teknologi pembelajaran, Ciputat: Pusat Teknologi Komunikasikom dan Informasi Pendidikan

Berbagai Usaha Pemanfaatan TIK

BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran.
Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet.
Kehadiran TIK telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Dalam kaitan ini, setiap orang atau bangsa yang ingin menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.
Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama.
Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga pendidikan guru, (2) harus tersedia materi yang berkualitas, bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru, dan (3) guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik.

1.        Tujuan
-      Memberikan informasi mengenai usaha-usaha pemanfaatan TIK dalam dunia pendidikan di Indonesia.
-      Mengerjakan tugas Pengantar Teknologi dan Komunikasi Informasi yang di empuh oleh Bu Eveline Siregar.

1.        Rumusan Masalah
-       Apakah pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia?
-       Mengapa TIK diperlukan dalam dunia pendidikan?
-       Apa Faktor-faktor diperlukannya TIK dalam pendidikan?
-       Apakah ada pergeseran dalam proses pembelajaran?
-       Usaha-usaha apa saja yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui bidang TIK ini?
-       Strategi-strategi apa saja yang diperlukan untuk menghadapi tantangan penerapan TIK?



BAB II PEMBAHASAN

A.  Pemanfaatan TIK berguna untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia
Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia sebenaranya sangat berguna untuk meningkatkan mutu pendidikan dan cara belajar mengajar di Indonesia yang masih konvensional. Pemanfaatan TIK ini mulai dibutuhkan melihat kebutuhan yang semakin menginkat dalam hal komunikasi secara langsung dan melihat dari letak geografis dan demografis Indonesia yang sebenarnya sangat cocok menerapkan TIK dalam pendidikan.
Dari letak geografis bisa dilihat bahwa Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terbentang luas dan antara pulau satu dengan lainnya saloing terpisah cukup jauh. Dari sini bisa dilihat perlunya suatu bentuk petukaran komunikasi dan informasi yang cepat dan memadai agar terjadi persamaan persepsi dalam elajar mengajar (memiliki landasan yang sama dan tidak subjektif).
Dari letak demografis, bisa dilihat bahwa Indonesia merupakan Negara dengan penduduk yang sangat besar (kurang lebih 20 juta orang) dan pada kenyataannya, sampai sekarang penyebaran pendidikan tidak merata karena konsentrasi pendidikan, sama halnya dengan pembangunan, masih berpusat di pulau Jawa. Karena itu perlu suatu infrastruktur dan saran yang bisa menjembatani ketidakseimbangan pemerataan pendidikan ini. Salah satu cara yang paling efektif dan sampai sekarang paling murah adalah dengan memanfaatkan TIK.
Mengapa dibilang paling murah? Lihatlah dari segi pembangunan infrastruktur pendukung TIK dalam pendidikan. Dengan sekali membangun dan membuat jaringan antar semua instansi pendidikan di Indonesia, kita semua sudah saling terhubung seperti sebuah jaringan raksasa yang bisa saling berbagi informasi dan saling berkomunikasi. Memang pada awal pembangunan infrastruktur ini terasa berat dan mahal, namun itu seperti sebuah investasi yang nantinya akan menghasilkan buah yang lebih besar dari harga yang harus dibayar.

1.        Alasan Mengapa TIK diperlukan
Alasan mengapa TIK diperlukan untuk peningkatan mutu pendidikan di Indonesia karena TIK berperan sebagai:
1.        Sebagai sumber ilmu pengetahuan terkhusus internet yang merupakan pusat seluruh referensi pembelajaran. Internet merupakan suatu jejaring raksasa yang mempertemukan dan mengintegrasikan seluruh pusat-pusat referensi pembelajaran yang ada di muka bumi ini.
2.        Masih dalam konteks KBK dan internet, adalah kenyataan bahwa internet tidak saja menjadi pusat sumber referensi, tetapi lebih jauh lagi menjadi tempat bertemunya para individu pembelajar itu sendiri. Dengan fasilitas aplikasi komunikasi seperti email, mailing list, chatting, dan blogging maka seorang siswa yang sedang belajar fisika di Balikpapan dapat berinteraksi dengan tokoh idolanya pemenang nobel fisika dari belahan bumi lain dengan leluasa. Tidak hanya itu, seorang mahasiswa yang mengalami kesulitan ketika sedang menyusun skripsi dapat berdiskusi dan bertukar pikiran dengan rekan-rekan sesama mahasiswanya dari perguruan tinggi lain tanpa harus beranjak dari lokasinya. Dengan menggabungkan kedua peranan strategis TIK yang telah dipaparkan sebelumnya, maka akan didapatkan sebuah peranan yang menjadi penyebab terjadinya revolusi di dunia pendidikan, yaitu TIK sebagai media pemungkin terjadinya transformasi pendidikan.
3.        Proses digitalisasi terhadap sumber daya pendidikan dan proses pendidikan melahirkan berbagai inisiatif penyelenggarakan kegiatan mengajar-belajar dengan memanfaatkan internet sebagai media penembus batas ruang dan waktu.
4.        Dalam dunia pendidikan lebih mengarah pada unsur pengelolaan institusi pendidikan seperti sekolah dan kampus. Peranan yang dimaksud adalah kemampuan TIK sebagai teknologi penunjang manajemen operasional institusi pendidikan, agar pengolahan berbagai sumber daya yang dimiliki dapat terjadi secara efektif,efisien,optimal,dan terkontrol dengan baik.

1.         Faktor diperlukannya TIK dalam pendidikan
Faktor diperlukannya TIK dalam dunia pendidikan di Indonesia sebagai berikut:
1.        Keterbatasan Kuantitas Sumber Daya Pendidikan :Di negara dengan populasi sekitar 250 juta ini aspek keterbatasan sumber daya pendidikan menjadi isu penting yang tak berkesudahan. Terbatasnya jumlah guru dan dosen dengan kualifikasi pendidikan tertentu, terbatasnya jumlah referensi pendidikan yang dapat dipergunakan siswa, terbatasnya jumlah sekolah bermutu yang dapat diandalkan, terbatasnya jumlah perpustakaan pendidikan yang dapat diakses, dan terbatasnya jumlah laboratorium untuk praktek, hanyalah merupakan sejumlah contoh keterbatasan yang dimaksud.
2.        Kesenjangan Kualitas Sumber Daya Pendidikan
3.        Ketidakmerataan Kesempatan Memperoleh Pendidikan :  Secara tidak langsung, melalui manfaat peningkatan kuantitas dan kualitas yang telah disampaikan di atas, permasalahan klasik terkait dengan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bermutu bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa dengan sendirinya dapat segera terwujud. Konsep Universitas Terbuka yang telah mampu menjangkau seluruh masyarakat hingga ke daerah terpencil dapat segera diikuti dengan penerapan konsep “sekolah terbuka” atau “perpustakaan terbuka”. Sejauh peserta didik yang bersangkutan bersemangat untuk belajar keras, dan institusi pendidikan yang ada mau merubah paradigma penyelenggaraan model pendidikannya, maka dengan bantuan TIK, segala keterbatasan-keterbatasan tersebut dapat diatasi permasalahannya.
4.        Model dan Pendekatan Pendidikan yang Kurang Relevan: Semakin cepatnya perkembangan ilmu dan perubahan di dunia ini menuntut setiap manusia dan institusi pendidikan untuk selalu memperbaharui dirinya dengan cara-cara pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan perubahan itu sendiri.

D.  Usaha-usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui bidang TIK ini  
Usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui bidang TIK ini adalah dengan menggunakan media yang sudah ada seperti media komunikasi baik secara digital maupun tertulis seperti televise, koran, radio, buku, atau internet (sekarang ini ada metode belajar jarak jauh dan home schooling)dan juga alat bantu lain yang lebih terjangkau, murah dan mudah didapatkan seperti barang-barang yang menurut kita hanya sampah tetapi sebenarnya masih dapat kita gunakan seperti botol air mineral dapat dipakai sebagai bahan membuat roket air. Jadi, alat untuk mempraktek sesuatu kepada murid tidak membutuhkan barang yang mahal, dengan sedikit kekreatifan dari guru ataupun pihak-pihak yang terlibat maka akan menciptakan suatu hal yang bermanfaat dan lebih mendukung proses pembelajaran.

1.        Lima Pergeseran dalam proses pembelajaran
Dengan berkembangnya penggunaan TIK  terkhusus dengan memanfaatkan internet sebagai salah satu sarana  pembelajaran ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:
1)    . dari pelatihan ke penampilan
2)    dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja
3)    dari kertas ke “on line” atau saluran
4)    fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja
5)    dari waktu siklus ke waktu nyata

1.        Strategi-strategi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan penerapan TIK
1.        Perubahan Paradigma dan Pemberdayaan SDM: Untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari penerapan TIK di lingkungan pendidikan, tentu saja harus melalui perubahan pola pikir yang cukup fundamental – bahkan dalam sejumlah konteks sedikit radikal. Dari berbagai hasil penelitian yang dilakukan lembaga-lembaga pendidikan terlihat bahwa kunci utama keberhasilan inisiatif apapun terkait dengan pemanfaatan TIK di lingkungan mengajar-belajar sangat tergantung pada tenaga pengajar, yaitu guru atau dosen.
2.        Penyediaan Infrastruktur dan Fasilitas TIK : maka hal terakhir yang harus dipikirkan adalah bagaimana dengan segala keterbatasan yang ada dapat disediakan infrastruktur dan fasilitas TIK yang memadai. Kuncinya hanya satu, yaitu motivasi dan keinginan untuk terjalinnya kerjasama antara sesama institusi pendidikan, dan dengan pihak swasta, komunitas, maupun pemerintah sebagai perumus kebijakan pendidikan nasional.


BAB III KESIMPULAN DAN PENUTUP
Kesimpulan
          Peningkatan mutu pendidikan dapat dilakukan dengan meningkatkan profesionalisme guru. Salah satu cara meningkatkan yang dapat dilakukan yaitu dengan meningkatkan kemampuan guru memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. Di era modern ini Guru dikatakan profesional apabila menguasai TIK, dan apabila sebaliknya maka akan disebut guru ketinggalan jaman.
Arti TIK bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun hal Pemanfaatan TIK ini di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan TIK untuk pendidikan memasuki milenium ketiga ini. Padahal penggunaan TIK  ini telah bukanlah suatu wacana yang asing di negeri Paman Sam sana. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan sudah merupakan kelaziman di Amerika Serikat pada dasawarsa yang telah lalu. Ini merupakan salah satu bukti utama ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa di dunia. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi terjadinya perubahan medasar terhadap peran guru: dari informasi ke transformasi. Setiap sistem sekolah harus bersifat moderat terhadap teknologi yang memampukan mereka untuk belajar dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih cerdas. Dan Teknologi Informasi dan komunikasi yang menjadi kunci untuk menuju model sekolah masa depan yang lebih baik.
Penutup
Tak ada gading yang tak retak, maka dari itu kami mohom maaf jika ada hal-hal yang kurang puas saat anda membaca makalah yang kami buat ini.
Sumber:
Cahyadi, Pendidikan di Indonesia, Yogyakarta: Gramedia, 2000.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates