Sabtu, 04 Agustus 2012

Sumber Informasi terkini dengan Citra pembaharu





Viva.co.id adalah elektronik news yang memiliki konten-konten seputar informasi-informasi yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat, hingga kebutuhan asupan pengetahuan yang dibutuhkan semua kalangan. Saya salah satu masyarakat yang menyukai ulasan-ulasan ter-uptodate  dari viva.co.id. Karena konten-konten yang disajikan di olah dengan bahasa yang mudah dimengerti, menarik dan santun. Konten-konten vivanews beragam pilihan, mulai dari news,  bola, life, blog, forum, socio. Konten-konten tersebut masih dibagi lagi menjadi sub-sub bagiannya.






NEWS : Merupakan berita-berita atau kumpulan reportase perkembangan suatu ranah yang sedang diperbincangkan masyarakat. Ini selalu terbaru setiap saat dan dikupas dengan narasumber dan fakta-fakta di lapangan. News disini berupa politik, bisnis, nasional, metro, dunia, sainstek, sport, otomotif, sorot, wawancara, fokus.
-      Politik: Perkembangan informasi dan kasus seputar pemerintahan di Indonesia yang sedang hangat diperbincangkan, contohnya seperti pemilukada Gubernur dan Wakil  Gubernur DKI Jakarta yang saling bersaing untuk menempati posisi rating teratas dengan strategi-strategi yang dimiliki masing-masing cagub dan cawagub.
-      Bisnis: Perkembangan informasi seputar bidang investasi dari investor yang juga berkaitan dengan kewirausahaan di masyarakat hingga finansial (keuangan), hingga bursa (saham) yang berhubungan dengan ranah ekonomi di Indonesia. Contohnya bisnis menggiurkan selama bulan ramadhan.
-      Nasional: Perkembangan suatu kabar informasi terkini yang sedang hangat-hangatnya dibahas di Indonesia, seputar wawasan nusantara hingga kasus hukum yang sedang booming. Contohnya populasi harimau di Jambi tinggal 30 ekor.
-      Metro: Berita-berita seputar kriminal dan kasus-kasus yang sering terjadi di masyarakat. Contohnya Pasal John Kei ditambah soal penganiayaan.
-      Dunia: Perkembangan informasi seputar dunia yang sedang terkini dari berbagai negara. Contohnya, ledakan tambang Meksiko, 6 Pekerja Tewas.
-      Sainstek: Informasi terupdate yang berhubungan dengan pengetahuan dan teknologi ataupun gadget yang sedang hits di masyarakat Indonesia dan dunia dan manfaatnya untuk masyarakat. Contohnya Blackberry Playbook LTE rilis pekan depan.
-      Sport: Perkembangan seputar informasi olahraga yang sedang dipertandingkan, prestasi atau berita para tokoh olahragawan. Contohnya Serena dan Murray lolos ke final Olimpiade.
-      Otomotif; Perkembangan informasi mengenai alat transportasi darat yang menggunakan mesin, terutama mobil dan sepeda motor. Berita dan kasus yang terjadi yang berkaitan dengan otomotif. Contohnya, BMW Seri 6 Gran Coupe segera mengaspal.
-      Sorot: Perkembangan informasi seputar berita yang sedang tren saat ini dan sedang jadi pusat perhatian di Indonesia dan Dunia. Contohnya, sepotong medali di Olimpiade.
-      Wawancara : Informasi yang langsung didapat dari narasumber dengan beberapa pertanyaan, untuk memperjelas suatu situasi dan kondisi juga hal-hal yang patut diketahui publik dengan bentuk artikel tanya jawab. Biasanya narasumber berasal dari tokoh, public figure, masyarakat yang sedang terkena kasus, atau sengaja untuk mempromosikan suatu film, dll. Contohnya, Viva mewawancarai salah satu Cagub yaitu Jokowi, dengan judul “Saya punya jurus rahasia hadapi Foke”.
-      Fokus: Perkembangan berita seputar hal-hal yang telah lama mempunyai kasus hingga terus berkembang dan melibatkan banyak pihak didalamnya bahkan berdampak merugikan sebagian besar masyarakat, lingkungan sampai negara, dan permasalahan tersebut sedang di proses atau diselesaikan. Contohnya, Isu korupsi dan terlantarnya simulator SIM.


BOLA: Informasi yang difokuskan untuk olahraga sepakbola. Seputar klasemen, live score suatu pertandingan, headlines (bisa berupa kabar terbaru dari pemain-pemain sepakbola, dll), Tim, dan masih banyak lagi. Bola dipisahkan dari konten sport, mungkin mayoritas masyarakat Indonesia sangat menyukai jenis olahraga ini. Maka dari itu dipisahkan dan dijadikan konten utama agar viewer dapat dengan mudah menemukannya. Contohnya, Dukungan Liverpool untuk Suarez.



LIFE: Informasi seputar kehidupan masyarakat pada umumnya dan bisa menjadi referensi. Sehingga pengetahuan kehidupan tersebut dapat di aplikasikan ke dalam dirinya ataupun orang lain. Dengan demikian, diharapkan adanya perubahan positif yang terjadi untuk individu tersebut. Life disini berupa, Style, Showbiz, Food+Living, Travel, Health hingga kumpulan foto, video dan komunitas di dalamnya.
-      Style: Informasi yang berkaitan dengan penampilan luar seperti fashion, model rambut terkini, dll. dan tips-tips terbaik yang patut di baca dan di ketahui masyarakat. Contohnya, sesuaikan poni dengan bentuk wajah.
-      Showbiz: Informasi atau berita seputar selebriti Indonesia maupun Dunia. Contohnya, Pengalaman Umrah Keluarga Christian Gonzales
-      Food+Living: Informasi yang berkaitan dengan  makanan dan minuman terbaik dan sangat dianjurkan untuk nutrisi didalam tubuh. Living merupakan informasi yang diperlukan masyarakat seputar aktivitas dan rutinitas sehari-hari untuk dirinya dan orang sekitarnya atau bisa juga artikel yang mengacu kepada gaya hidup masyarakat metropolis. Contoh, Jenis Antioksidan untuk Makanan Bayi.
-      Travel: Informasi-informasi seputar pariwisata, dan promosi suatu daerah, wilayah ataupun negara. Contohnya, Mezquita de Cordoba, Jejak Islam di Spanyol.
-      Health: Informasi berupa saran-saran dan manfaat yang sudah teruji yang dapat meningkatkan kualitas kesehatan individu. Contoh: 4 Musuh Utama Kesehatan Mata.



BLOG: Sekumpulan blog para blogger yang hobi dalam menulis dan mengshare ke konten Blog Viva.co.id. Bila kalian mempunyai ide, ataupun info bisa dituangkan ke blog kalian dan berbagi kepada para viewers. Namun, kalian harus bergabung terlebih dahulu dalam Viva Blog. Selamat menulis. Dan disini kalian juga bisa mendapatkan teman baru.



FORUM: Info-info lucu, kocak, dan kadang membuat kita dapat mengernyitkan dahi.. Hahahaha. Yang mendapatkan komentar para member viva. Disini kita juga bisa saling berbagi link mengenai hal-hal yang kocak, lho. Ada juga pengetahuan-pengetahuan yang tidak biasa. Penasaran, bukan. Coba saja ikuti forum tersebut.


SOCIO: Info seputar hal-hal yang di share para member di twitter dalam konten Socio. Seperti salah seorang yang mengshare suatu link untuk usahanya. Kita bebas berbagi, tapi harus ada batasannya J . Siapa tahu, setelah kita share, usaha/bisnis kita lebih meningkat. Iya, kan. J


   Sungguh menarik, bukan?. Konten favorit saya terdapat di konten News, yaitu berita Nasional yang berkaitan dengan pendidikan (maklum konsentrasi kuliah saya dibidang kependidikan), sainstek, dan dunia. Selain, itu konten life #HighReccomend terutama yang berhubungan untuk Health (kesehatan) . Mungkin karena keseringan membaca artikel-artikel dari vivanews wawasan saya semakin meningkat dan hal-hal yang berkaitan untuk dampak positif selalu saya usahakan mengimplementasi untuk diri sendiri bahkan lingkungan sekitar.

    Bermula dari minat keingintahuan saya terhadap hal-hal yang sedang dihebohkan masyarakat, membuat saya selalu membaca media cetak dan menonton saluran reportase di televisi. Namun, aktivitas perkuliahan yang terkadang padat menjadikan saya, beralih ke alternatif e-news yang lebih praktis kapan dan di manapun untuk kalangan mahasiswa. Dan dari banyaknya e-news pilihan saya jatuh kepada Viva.co.id.

   Mengapa viva? Pertama, penampilan design web viva yang ‘rame’ dengan keanekaragaman informasi yang sedang ‘booming’  dan tersusun rapi peletakannya  sesuai dengan jenis informasi, memudahkan viewers dalam menemukan info terupdate . Kedua, viva memiliki konten-konten yang diperlukan, dalam mencari studi kasus untuk tugas beberapa mata kuliah saya. Saya sudah mempercayainya, karena lebih konkrit dalam penjelasan suatu kasus atau info, selain itu keakuratannya sudah terpercaya.

     Contoh studi kasus yang sewaktu itu saya searching, yakni kenaikan harga impor pangan kedelai dalam ketahanan nasional. Dan sangat banyak informasi yang menjadi referensi untuk pengembangan analisa di tugas akhir kelompok saya saat itu. Pada saat mempresentasikan studi kasus tersebut, alhamdulillah lancar dan mendapatkan tanggapan positif dari dosen dan mahasiswa lainnya. Sang dosen pun menyukai diskusi dari kelompok kami. Dan memuji, ‘perform’ hingga studi kasus yang sedang hangat-hangatnya di perbincangkan masyarakat. Saya optimis respon tersebut akan membawa dampak baik dalam persentase nilai kelompok. Intinya, saya puas dengan presentasi tersebut.

          Saking terpercayanya web tersebut ANTV pun menjadi member VIVA, lho. Jadi viva tidak perlu diragukan keabsahannya, hohoho.


        Oh ya, viva sendiri bisa kita pantau melalui twitter lho. Follow aja twitternya @vivacoid @VIVAnews @VIVAlife_ @VIVAlog @VIVAbola juga ANTV karena merupakan bagian dari member viva @whatsonANTV gak nyesel deh.. Apalagi yang sering update twitter, sosial jalan, pengetahuan pun didapat. Tenang saja viva selalu update di twitter, jadi kita dapat mengecek konten-konten favorit kita yang terbaru tanpa adanya ketertinggalan. Dari tweetnya saja membuat siapa pun lebih ingin tahu, info-info tersebut.




Jangan lupa juga jadi member vivanews agar lebih banyak lagi keuntungan yang diperoleh. Aku udah jadi membernya, lho :)







Postingan blogku juga sudah aku share ke twitter J





Sampai disini dulu cuap-cuap saya.. Semoga review ini bermanfaat untuk kalian. Dan tunggu review-review selanjutnya.





Jangan lupa tulis comment kalian, agar bisa memperbaiki tulisan-tulisan saya berikutnya.
Ingat lho.. More reading, Open imagination. It makes inspiration.
Thank You :D



By: Dara Zarbiah

Rabu, 02 Mei 2012

TIU DAN TIK


A. Tujuan Intruksional
Ada beberapa definisi yang disampaikan oleh beberapa tokoh seperti Robert F. Magner (1962) yang mendefinisikan tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa sesuai kompetensi. Juga ada Eduard L. Dejnozka dan David E. Kavel (1981) yang mendefinisikan tujuan instruksional adalah suatu pernyataan spefisik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tulisan yang menggambarkan hasil belajar yang diharapkan serta Fred Percival dan Henry Ellington (1984) yang mendefinisikan tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang jelas menunjukkan penampilan / keterampilan yang diharapkan sebagai hasil dari proses belajar. Setelah kita mengetahui beberapa definisi tujuan instruksional yang dikemukakan dari beberapa tokoh kita dapat mengambil beberapa manfaat yaitu
1. Kita dapat menentukan tujuan proses belajar mengajar
2. Menentukan persyaratan awal instruksional
3. Merancang strategi instruksional
4. Memilih media pembelajaran
5. Menyusun instrumen tes sebagai evaluasi belajar
6. Melakukan tindakan perbaikan pembelajaran.
Ada dua macam tujuan instruksional yaitu:
1. Tujuan instruksional umum (TIU)
2. Tujuan instrusional khusus (TIK)
Dalam pembaruan sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia sekarang ini, setiap guru dituntut untuk menyadari tujuan dari kegiatannya mengajar dengan titik tolak kebutuhan siswa. Oleh karena itu, dalam merancang sistem belajar yang akan
dilakukannya, langkah- pertama yang ia lakukan adalah membuat tujuan instruksional. Dengan tujuan instruksional:
a) Guru mempunyai arah untuk:
- Memilih bahan pelajaran,
-           Memilih prosedur (metode) mengajar.
b) Siswa mengetahui arah belajanya.
c) Setiap guru mengetahui batas-batas tugas dan wewenangnya mengajarkan suatu bahan sehingga diperkecil kemungkinan timbulnya celah (gap) atau saling menutup (overlap) antara guru.
d) Guru mempunyai patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar siswa.
e) Guru sebagai pelaksana dan petugas-petugas pemegang keijaksanaan (decision maker) mempunyai kriteria untuk mengevaluasi kualitas maupun efisiensi pengajaran.
Tujuan pengajaran dapat dirumuskan dengan rumus ABCD. A (audience) adalah siswa yang belajar, B (behavior) adalah perubahan prilaku yang di inginkan terjadi, C (condition) adalah kondisi yang menimbulkan perubahan prilaku yang di inginkan, dan D (degree) adalah derajad ketercapaian perubahan yang diinginkan. Misalkan: setelah membaca diperpustakaan (C) siswa (A) diharapkan dapat menyebutkan macam-macam sholat sunah (B) paling tidak enam jenis (D).
B. Pengertian Tujuan instruksional Umum dan Khusus
Tujuan instruksional umum (TIU) adalah tujuan pengajaran yang perubahan prilaku siswa yang belajar masih merupakan perubahan internal yang belum dapat dilihat dan diukur. Kata kerja dalam tujuan umum pengajaran masih mencerminan perubahan prilaku yang umumnya terjadi pada manusia, sehingga masih menimbulkan beberapa penafsiran yang berbeda-beda. Contoh TIU: “setelah melakukan pelajaran siswa diharapan dapat memahami penjumlahan dengan benar”. Kata kerja “memahami penjumlahan” merupakan kata kerja- yang bersifat umum karena pemahaman penjumlahan dapat ditafsirkan berbeda.
Tujuan instruksional khusus (TIK) adalah tujuan pengajaran dimana perubahan prilaku telah dapat dilihat dan diukur. Kata kerja yang menggambarkan perubahan prilaku telah spesifik sehingga memungkinkan dilakukan pengukuran tanpa menimbulkan lagi berbagai perberdaan penafsiran. Misal TIK yang dirumuskan sbb “Siswa akan menunjukkan sikap positif terhadap kebudayaan nasional”, dapat lebih dikhususkan dengan mengatakan “siswa akan membuktikan penghargaannya terhadapa seni tari nasional dengan ikut membawakan suatu tarian dalam perpisahan kelas”.
C. Klasifikasi Tujuan Instruksional Menurut Jenis Perilaku (internal)
Ilmu psikologi mengenal pembagian aspek kepribadian atas tiga kategori yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik. Aspek kognitif yang mencakup pengetahuan serta pemahaman, aspek afektif yang mencakup perasaan, minat, motivasi, sikap kehendak serta nilai dan aspek psikomotorik yang mencakup pengamatan dan segala gerak motorik. Dalam kenyataannya dasar pembagian yang demikian kerap menjadi pedoman dalam menggolongkan segala jenis perilaku. Kegunaan dari suatu sistem klasifikasi mengenai tujuan instruksional termasuk tujuan intruksional khusus adalah kita dapat memperoleh gambaran tujuan tujuan instruksional ditinjau dari segi jenis perilaku yang mungkin dicapai oleh siswa. Menurut Bloom dan kawan kawan pengklasifikasian jenis perilaku disusun secara hierarkis sehingga menjadi taraf taraf yang menjadi semakin kompleks.
a. Kognitif :
1. Mencakup pengetahuan ingatan yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan
2. Mencakup pemahaman untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari
3. Mencakup kemampuan menerapkan suatu kaidah atau metode yang baru
4. Mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan
5. Mencakup kemampuan membentuk suatu kesatuan
6. Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat
b. Afektif :
1. Mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan
2. Mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif
3. Mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu
4. Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai
5. Mencakup kemampuan untuk menghayati nilai nilai kehidupan
c. Psikomotorik :
1. Mencakup kemampuan untuk membedakan ciri ciri fisik
2. Mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam memulai gerakan
3. Mencakup kemampuan untuk melakukan sesuatu rangkaian gerak gerik
4. Mencakup kemampuan untuk melakukan sesuatu rangkaian gerak gerik dengan lancar
5. Mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilandengan lancar, efisien dan tepat
6. Mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan Pola gerak gerik yang mahir
7. Mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak gerik yang baru
D.                    Langkah-langkah yang dilakukan dalam merumuskan tujuan instruksional khusus
a.                     Membuat sejumlah TIU (tujuan instruksional umum) untuk setiap mata pelajaran/bidang studi yang akan diajarkan. Di dalam kurikulum tahun 1975 maupun 1984, TIU ini sudah tercantum dalam uku Garis-Garis Besar Program Pengajaran. Dalam merumuskan TIU digunakan kata kerja yang sifatnya masih umum dan tidak dapat diukur karena perubahan tingkah laku masih terjadi di dalam diri manusia (intern).
b.                    Dari masing-masing TIU dijabarkan menjadi TIK yang rumusannya jelas,khusus, dapat diamati, terukur dan menunjukan perubahan tingkah laku.
Contoh-contoh rumusan untuk TIU:
- Memahami teori evolusi
- Mengetahui peredaan antara skor dan nilai.
- Mengerti cara mencari validita.
- Menghayati perlunya penilaian yang tepat.
- Menyadari pentingnya mengikuti kuliah dengan teratur.
- Menghargai kejujuran mahasiswa dalam mengerjakan tes.
Dalam contoh ini digunakan kata-kata kerja: memahami, mengetahui, mengerti, menghayati, menyadari, menghargai, dan masih ada beberapa lagi yang sifatnya masih terlalu umum sehingga penafsirannya dapat berbeda antara orang yang satu dengan yang lain.
Contoh:
Siswa mengerti cara mencari validitas suatu soal. Bagaimanakah kita tahu ia mengerti? Apakah karena pada waktu diterangkan dia tampak mengangguk-anggukkan kepala? Boleh jadi dia mengangguk-anggukkan kepalanya hanya merupakan suatu usaha agar tidak dikatakan mengantuk atau sedang melamunkan sesuatu. Tampaknya mengangguk mereaksi belajar, tetapi angannya melayang.
Atas dasar semua keterangan ini maka agar dalam mengadakan evaluasi terlihat hasilnya, TIU ini perlu diperinci lagi sehingga menjadi jelas dan tidak disalahtafsirkan oleh berapa orang.
E.         Rumusan TIK yang lengkap memuat tiga komponen, yaitu:
a) Tingkah laku akhir (terminal behavior)
Tingkah laku akhir adalah tingkah laku yang diharapkan setelah seseorang seseorang mengalami proses belajar mengajar. Disini tingkah laku ini harus menampakan diri dalam suatu perbuatan yang dapat diamati dan diukur (observable and measuarable).
Contoh:
- Menuliskan kalimat perintah
- Mengalikan pecahan persepuluhan,
- Menggambarkan kurva normal,
- Menyebutkan batas-batas Daerah Istimewa Yogyakarta,
- Menerjemahkan bacaan bahasa inggris kedalam bahasa Indonesia.
- Menceritakan kembali uraian guru,
- Mendemonstrasikan cara mengukur suhu,
- Mengutarakan pendapatnya mengenai sesuatu yang dikemukakan guru.
- Menjelaskan hasil bacaan dengan kalimat sendiri.
Dan lain-lain lagi yang berujud kata kerja perbuatan/operasional (action verb) yang diamati dan diukur.
Kata-kata Operasional
a. Cognitive domain; levels and corresponding action verbs
1) Pengetahuan (knowledge)
-Mendefinisikan, mendeskrifsikan, mengidentifikasi, mendaftarkan, menjodohkan, menyebutkan, menyatakan (states), mereproduksi.
2) Pemahaman (comprehension)
-Mempertahanan, membedakan, menduga (estimates),menerangkan, memperluas, menyimpulkan, menggeneralisasikan, memberikan contoh, menuliskan kembali,memperkirakan.
3) Aplikasi
- Mengubah, menghitung, mendemonstrasikan, menemuan, memanipulasikan, memodifikasi, mengoperasikan, meramalkan, menyiapkan, menghasilkan menghubungkan, menunjukan, memecahkan, menggunakan.
4) Analisis
- Memerinci, menyusun diagaram, membedakan, mengidentifikasikan, mengilustrasikan, menyimpulkan, menunjukan, menghubungkan, memilih, memisahkan, membagi (subdivides).
5) Sintesis
Mengategorikan, mengkombinasikan, mengarang, menciptakan, memubat desain, menjelaskan, memodifikasi, mengorganisasikan, menyusun, membuat rencana, mengatur kembali, mengrekonstruksikan, menghubungkan, mereorganisasikan, merevisi, menuliskan kembali, menuliskan, memceritakan
6) Evaluasi
- Menilai, membandingkan, menyimpulkan, mempertentangkan, mengkritik, mendeskripsikan, membedakan, menerangkan, memutuskan, menafsirkan, menghubungkan, membantu (supports).
b. Affective domain; learning levels and corresponding action verbs
1) Reesiving
- Menanyakan, memilih, mendeskrifsikan, mengikuti, memberikan, mengidentifikasikan, menyebutkan, menunjukan, memilih, menjawab.
2) Responding
- Menjawab, membantu, mendiskusikan, menghormat, berbuat, melakukan, membaca, memberikan, menghafal, melaporkan, memilih, menceritakan, menulis.
3) Valuing
- Melengkapi, menggambarkan, membedakan, menerangkan, mengikuti, membentuk, mengundang, menggabung, mengusulkan, membaca, melaporkan, memilih, bekerja, mengambil bagian (share), mempelajari.
4) Organization
- Mengubah, mengatur, menggabungkan, membandingkan, melengkapi, mempertahankan, menerangkan, menggeneralisasikan, mengidentifikasikan, mengintegrasikan, memodifikasi, mengorganisir, menyiapkan, menghubungkan, mengsintesiskan.
5) Characterization by value or value complex
- Membedakan, menerapkan, mengusulkan, memperagakan, mempengaruhi, mendengarkan, memodifikasikan, mempertunjukan, menanyakan, merevasi, melayani, memecahkan, menggunakan.
c. Psychomotor domain
Kata-kata operasional untuk aspek psikomotor harus menunjukan pada aktualisasi kata-kata yang dapat diamati meliputi:
1. Muscular or motor sills
- Mempertotonkan gerak, menunjukan hasil (pekerjaan tangan), melompat, menggerakan, menampilkan.
2. Manipulation of materials or objects
- Mereparasi, menyusun, membersihkan, menggeser, memindahkan, membentuk.
3. Neuromuscular coordination
- Mengamati, menerapkan, menghubungkan, menggandeng, memadukan, memasang, memotong, menarik, menggunakan.
Kata-kata yang telah disajikan di atas merupakan kata-kata kerja yang dipakai dalam merumuskan tujuan instruksional khusus bagi siswa-siswa yang belajar, sehingga rumusan seutuhnya menjadi pernyataan-pernyataan antara lain, sebagai berikut.
- Siswa dapat menjumlahkan bilangan-bilangan yang terdiri dari
puluhan dan satuan.
- Siswa dapat menunjukan letak gunung-gunung yang ada di Jawa Tengah.
- Siswa dapat menceritakan kembali isi bacaan tentang kisah
keluarga.
b) Kondisi demonstrasi (condition of demonstration or tes)
Kondisi demonstrasi adalah komponen TIK yang menyatakan suatu kondisi atau situasi yang dikenakan kepada siswa pada saat ia mendemonstrasikan tingkah laku akhir, misalnya:
- Dengan penulisan yang betul
- Urut dari yang paling tinggi
- Dengan bahasanya sendiri
Dengan demikian rangkaian kata-kata dalam rumusan TIK menjadi:
- Siswa dapat menjumlahkan bilangan yang terdiri dari puluhan dan satuan dengan penulisan yang betul.
- Siswa dapat menunjukan letak gunung-gunung yang ada di Jawa Tengah, urut dari yang paling tinggi.
- Siswa dapat menceritakan kembali isi bacaan tentang kisah keluarga dengan bahasanya sendiri.
Kata-kata bercetak miring itulah yang menunjukan standar keberhasilan.
c) Standar keberhasilan (standard of performance)
Standar keberhasilan adalah komponen TIK yang menunjukan seerapa jauh tingkat keberhasilan yang dituntut oleh penilai bagi tingkah laku pelajar pada situasi akhir.
Tingkatan keberhasilan dapat dinyatakan dalam jumlah maupun presentase, misalnya:
- Dengan 75% betul,
- Seurang-kurangnya 5 dari 10,
- Tanpa kesalahan
Dengan tambahan tingkatan keerhasilan ini maka bunyi rumusan TIK menjadi:
- Siswa dapat menjumlahkan bilangan yang terdiri dari puluhan dan satuan tanpa kesalahan.
- Siswa dapat menunjukan kembali kota-kota yang ada di Jawa Barat urut dari yang paling barat, dengan hanya 25% kesalahan.
Yang umum dikerjakan sampai saat ini hanya sampai tingkah laku akhir saja.
Pada pedoman pelaksanaan kurikulum dijelaskan bahwa,dalam kegiatan belajar mengajarguru diharuskan memperhatikan pula- keterampilan siswa dalam hal memperoleh hasil, yakni memperoleh keterampilan tentang prosesnya. Pendekatan ini disebut dengan istilah Pendekatan Keterampilan Proses (PKP). Keterampilan-keterampilan yang dimaksud meliputi keterampilan dalam hal:
1. Mengamati,
2. Menginterprestasikan (menafsirkan) hasil pengamatan,
3. Meramalkan,
4. Menerapkan konsep,
5. Merencanakan penelitian,
6. Melaksanakan penelitian,
7. Mengkomunikasikan hasil penemuan
Sesuai dengan tuntutan tersebut maka guru dalam merumuskan Tujuan Instruksional Khusus harus mengundang apa yang dilakukan siswa dalam kegiatan belajar mengajar (keterampilan yang mana), bagaimana menunjukan kemampuan atau hasilnya (tingkah laku) dan perolehannya. Untuk mempermudah tugas ini, dalam buku GBPP kurikulum 1984. Tujuan instruksional umum yang termuat sudah dirumuskan dalam satu rumusan yang menjelaskan:
1. Materi yang dipelajari,
2. Perilaku mengutarakan hasil,
3. Proses mencapaiannya.

Jumat, 27 April 2012

Kumpulan Foto Artisitik dari berbagai sumber

FOTO-FOTO ARTISTIK DARI BERBAGAI SUMBER


















Minggu, 15 April 2012

Tugas observasi psi


Tugas Observasi          
Pengembangan Sistem Instruksional



Nama : Dara Zarbiah
NIM    : 1215106082

TEKNOLOGI PENDIDIKAN
KURIKULUM DAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012






Latar Belakang :    
     Pendidikan merupakan hak setiap warga negara, terutama di Indonesia. Karena pendidikan sendiri mempunyai fungsi penting bagi seseorang, mulai dari menyalurkan cita-cita dan impiannya, hingga memperbaiki unsur-unsur penting dalam kehidupan ekonomi, sosial budaya, politik, sampai dengan nilai kehidupan yang seharusnya dimiliki oleh manusia. Bukan hanya hak menempuh pendidikan saja, tetapi kelayakan dalam proses belajar mengajar juga perlu didapatkan para peserta didik dan pendidik. Dari kekurangan PBM tersebut, maka muncullah kendala-kendala yang dirasakan perlu untuk diperbaiki dan ditingkatkan pastinya. Mulai dari infrastruktur, sarana prasarana, sistem pengajaran, media pembelajaran, sumber daya cipta, hingga permasalahan pada para guru contohnya bertahun-tahun mendidik masih menyandang guru honorer. Didalam observasi saya kali ini, saya banyak mengamati dan merasakan kendala-kendala peserta didik, penddik, hingga pengelola dalam menjalankan tugas mereka masing-masing. Masih banyak sekali keterbatasan yang ada. Tetapi keterbatasan itu perlu dipecahkan permasalahannya, tidak hanya para warga sekolah saja, namun pemerintah dan juga lembaga pendidikan harus membantu dan saling bergotong royong dalam mewujudkan pendidikan berkualitas, kuantitas dan bermutu.

Metode Observasi :
Melalui pengamatan langsung
Melalui wawancara
Melalui Kuesioner kepada beberapa siswa

Hasil Observasi :
Nama sekolah yang dituju : SDN 04 Jati Padang, Jln. Bacang RT06/01. Kelurahan Jatipadang. Kecamatan Pasar Minggu.
Kegiatan sekolah: Dimulai dari pukul 13.00-16.00 (Senin-Sabtu)
Sasaran Observasi : Untuk kelas 5 SD dalam pelajaran Matematika
Sumber : Bu Riya (Guru Matematika), Sekar (Siswa), Dito (Siswa), Chandra (Siswa)

Pengamatan:
Infrastruktur sekolah, Sarana dan Prasarana
Ruang Kelas layak digunakan
Ruang kelas mencukupi untuk semua siswa
Tidak adanya perpustakaan, perpustakaan sekolah digabung dengan ruang guru/kepsek
Keadaan kelas atau sekolah termasuk bersih dan nyaman
Adanya sejumlah papan kecil yang terdapat diatas koridor sekolah berupa kata-kata motivasi

Kondisi sarana dan prasarana seperti toilet guru dan siswa, hingga ruang kelas cukup terpelihara kebersihnnya
Lahan sekolah dan bangunannya termasuk luas dan cukup besar, bebas banjir, namun lokasinya kurang strategis untuk diketahui banyak masyarakat.
Media pembelajaran sangat sedikit, yang terlihat hanya foto-foto para pahlawan saja tidak ada yang lainnya. Guru sangat jarang bahkan ada yang tidak pernah membuat media pembelajaran untuk memudahkan penyampaian materi

Tidak adanya lab komputer dan kurangnya ruang kelas menjadikan SD ini tidak mempunyai mata pelajaran komputer.
Buku paket pelajaran dipinjami dari sekolah dalam jangka waktu yang ditentukan

Pendidik
Jumlah pendidik ada 9. 6 guru mewakili setiap tingkatan kelas, 3 guru dikhususkan untuk pelajaran Agama, B.Inggris, dan Olahraga
Semua guru disini semuanya telah menempuh gelar sarjana
Ada beberapa guru yang masih menyandang guru honorer walaupun sudah bekerja bertahun-tahun
Peserta Didik
Jumlah siswa secara keseluruhan dari kelas 1 sampai kelas 6, yaitu 197 siswa
Mayoritas murid memiliki latar belakang ekonomi yang kurang mampu
Jumlah rata-rata UN untuk tiga mata pelajaran 7, 68
Wawancara dan kuesioner
1. Apa yang menjadi kendala siswa dalam belajar Matematika ?
Kurangnya memahami rumus yang diberikan guru. Kondisi kelas yang berisik karena ada beberapa siswa yang bercanda dan mengobrol, menjadikan siswa yang lainnya tidak fokus. Guru juga kurang terdengar suaranya, sehingga yang dibelakang terkadang tidak paham apa yang sedang dijelaskan guru.
Pola pembelajaran dikelas: Guru memberikan teori, setelah itu memberikan tugas latiha kepada para siswa.
2. Apa kendala guru tersebut dalam mengajarkan Matematika ?
Karena proses pembelajaran dimulai pukul 13.00-14.40 membuat siswa mudah mengantuk dalam mengamati dan mendengarkan guru memberikan materi dikelas. Siswa sering kurang memahami rumus yang sedang dijelaskan. Guru memberikan tugas namun masih banyak siswa yang tidak mengerjakan. Selain itu pihak sekolah tidak mempunyai fasilitas media pembelajaran yang terkait dengan pelajaran tersebut.
3. Apa kendala pengelola terhadap pembelajaran ?
Murid- murid banyak yang iseng dalam mencoret-coret fasilitas sekolah contohnya meja dan kursi padahal padahal sudah dicat ulang berkali-kali. Jarangnya guru yang mempunyai inisiatif dalam membuat media pembelajaran dalam mata pelajaran, hanya sedikit yang melakukan itu, itupunn juga sangat jarang dilakukan. Keadaan buku paket pelajaran banyak yang sudah rusak, karena sudah lama tidak diganti dan banyak siswa yang tidak bertanggung jawab setelah meminjam buku-buku tersebut. Seperti banyak halaman yang hilang, dicoret-coret dan kotor. Dari depdiknas sendiri juga hanya memberikan  sedikit buku pelajaran dan itupun juga diberikan setiap 5 tahun sekali. Pihak sekolah juga tidak tega untuk menyuruh siswanya dalam mengganti buku yang sudah dirusaknya, karena latar belakang ekonomi para siswa tersebut.
4. Metode pengajaran yang dipakai guru ?
Masih konvensional, namun guru tidak hanya sekedar mengajari namun mendidik siswa. Berusaha membimbing siswa ke arah positif. Adanya feedback antara guru dan murid. Komunikasi guru berupa bahasa yang digunakan mudah dipahami siswa. Setiap sehabis menjelaskan teori biasanya guru memberikan contoh kehidupan sehari-hari pada siswa agar dapat dimengerti, tidak hanya sekedar mengerti teori. Guru menerapkan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Guru memberikan kesempatan siswa untuk menunjukkan kemampuannya dengan maju kedepan, dengan menulis jawaban sesuai pemikiran mereka.
5. Stimulus yang diberikan guru terhadap siswa ?
Guru memberikan stimulus terhadap siswa dengan cerita-cerita menarik sebelum memulai pelajaran, untuk mendapatkan perhatian para siswa. Memberikan pujian kepada para siswa, jika sudah mengerjakan sesuatu semaksimal mungkin. Selain itu, pemberian reward pada siswa yang berhasil memperoleh nilai terbaik dalam ujian akhir sekolah akan diberikan hadiah berupa mengajak makan bersama guru tersebut. Ini dilakukan untuk menyemangati siswa tersebut dan siswa lainnya untuk mendapatkan nilai maksimal.
6. Media pembelajaran yang digunakan ?
Hanya pedoman berupa buku paket yang dipinjami dari pihak sekolah
7. Program khusus untuk meningkatkan hasil belajar siswa ?
Kepala sekolah berencana akan memberikan piagam dan piala kepada tiga siswa terbaik dari kelas 1-6. Itu dilakukan untuk meningkatkan minat belajar para siswa. Selain itu rencananya akan dilaksanakan bimbingan mata pelajaran satu jam sebelum bel sekolah masuk.

Kesimpulan
Dari kesimpulan hasil observasi yang dilaksanakan di SDN Jati Padang 04, masih banyak kendala-kendala yang diamati dan dirasakan perlu perbaikan dan peningkatan fisik infrastruktur, fasilitas, sarana prasarana, kualitas pengajaran hingga alat bantu untuk memudahkan dalam menyampaikan materi terutama matematika. Semua warga sekolah harus saling bergotong royong dan membantu satu sama lain dalam PBM agar kekurangan tersebut dapat diminimalisir dan menjadikan kegiatan belajar lebih bermakna. 



Foto Hasil Observasi

                       
                    
SDN 04 Jati Padang                               Gedung Sekolah                             Hasil UN tahun kemarin

            
Kelas 5                                               Buku Paket yang digunakan         Proses belajar mengajar


              
Media pembelajaran yang             Buku pedoman guru                         Data siswa dan pendidik
Dujadikan hiasan kelas



                                                           Sekar (Siswa yang diwawancarai)

Selasa, 03 April 2012

DIP (Survey Pengelompokkan Adopter)

PENDAHULUAN



        inovativeness adalah derajat dimana seseorang atau sekelompok orang relativ dapat menerima ide – ide baru dengan cepatdaripada orang lainnya. Adopter adalah orang/kelompok yang memakai atau menerima suatu inovasi. Hubungan antara innovativeness dengan adopter adalah kecepatan seseorang atau kelompok dalam menerima suatu inovasi yang ada sesuai dengan tingkat keinovatifannya. Dari innovativeness tersebut, terdapat pengelompokkan adopter , yaitu :
1. Inovator: Adalah kelompok orang yang berani dan siap untuk mencoba hal-hal baru. Hubungan sosial mereka cenderung lebih erat dibanding kelompok sosial lainnya. Orang-orang seperti ini lebih dapat membentuk komunikasi yang baik meskipun terdapat jarak geografis. Biasanya orang-orang ini memiliki gaya hidup dinamis di perkotaan yang memiliki banyak teman atau relasi.

2. Pengguna awal: Kelompok ini lebih lokal dibanding kelompok inovator. Kategori adopter seperti ini menghasilkan lebih banyak opini dibanding kategori lainnya, serta selalu mencari informasi tentang inovasi. Mereka dalam kategori ini sangat disegani dan dihormati oleh kelompoknya karena kesuksesan mereka dan keinginannya untuk mencoba inovasi baru.

3. Mayoritas awal: Kategori pengadopsi seperti ini merupakan mereka yang tidak mau menjadi kelompok pertama yang mengadopsi sebuah inovasi. Sebaliknya, mereka akan dengan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi, bahkan bisa dalam kurun waktu yang lama. Orang-orang seperti ini menjalankan fungsi penting dalam melegitimasi sebuah inovasi, atau menunjukkan kepada seluruh komunitas bahwa sebuah inovasi layak digunakan atau cukup bermanfaat.

4. Mayoritas akhir: Kelompok yang ini lebih berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan. Terkadang, tekanan dari kelompoknya bisa memotivasi mereka. Dalam kasus lain, kepentingan ekonomi mendorong mereka untuk mengadopsi inovasi.

5. Laggard: Kelompok ini merupakan orang yang terakhir melakukan adopsi inovasi. Mereka bersifat lebih tradisional, dan segan untuk mencoba hal hal baru. Kelompok ini biasanya lebih suka bergaul dengan orang-orang yang memiliki pemikiran sama dengan mereka. Sekalinya sekelompok laggard mengadopsi inovasi baru, kebanyakan orang justru sudah jauh mengadopsi inovasi lainnya, dan menganggap mereka ketinggalan zaman. 



Dari teori adopter tersebut, masuk ke pengelompokkan yang manakah kalian ?

Pembahasan 

Dari penjelasan yang dikemukakan diatas maka dalam forum grup DIP (Difusi Inovasi Pendidikan), diadakan survey kecil-kecilan yang diadakan untuk mahasiswa TP’10 NR, survey tersebut bertujuan untuk mengamati para mahasiswa masuk ke pengelompokkan adopter inovator, early adopters, early majority, late majority, dan leggards. 


       Setelah survey dilakukan dari 42 member terdapat 35 Member yang menjawab pertanyaan dalam forum tersebut. Dari 35 koresponden dibagi dengan banyaknya jawaban dari masing-masing sekitar 7 koresponden merasa dirinya masuk kekategori inovator, 5 koresponden memilih early adopters, 10 Koresponden memilih Early Majority, 2 koresponden late majority, dan tidak ada yang memilih leggards. Namun, ada juga beberapa koresponden yang memiliki jawaban berbeda, termasuk saya, hehe. Koresponden-koresponden tersebut memilih dua jawaban tersebut dikarenakan ada dua pengelompokkan adopter didirinya, ada juga yang menginginkan pengelompokkan adopter tersebut namun, ia merasa lebih masuk ke pengelompokkan adopter yang lain.
      Jawaban lain tersebut yaitu 1 koresponden merasa antara inovator dan juga pengadopsi awal, 1 koresponden memilih antara early majority dan akhir majority (saya hehehe), antara early adopters dan early majority terdapat 3 koresponden. Menjawab forum namun tidak menjawab dirinya masuk ke pengelompokkan adopter ada 6 koresponden. Dan member yang tidak menjawab forum ’adopter’ 6 member.


      Dari survey yang dilakukan di ketahui aneka alasan para koresponden mengenai pengelompokkan adopter, yaitu paling banyak memilih mempermudah pembelajaran/mengatasi masalah juga faktor hambatan masing-masing 6 koresponden. Selanjutnya meningkatkan kualitas pendidikan juga memperhatikan keuntungan dan kerugian suatu inovasi masing-masing terdapat 3 koresponden. Ada pula yang memilih pelopor inovasi yang terdapat 2 koresponden atas pilihan tersebut. Namun ada juga yang menjawab teori adopter tanpa menyebutkan dirinya masuk ke pengelompokkan mana.





Ini adalah polling hasil survey tersebut tertinggi diduduki oleh kelompok Early Majority, Posisi kedua ditempati inovator, posisi ke tiga ditempati yang tidak memilih pengelompokkan dan member yang tidak menjawab forum. Setelahnya terakhir pada posisi early adopters dan jawaban lain.

Maka dapat disimpulkan mayoritas mahasiswa tepe’10 nr lebih cenderung merasa dirinya early majority.

Penutup

        Dalam pengelompokkan inovasi kita dituntut untuk menjadi inovator, terlebih mahasiswa tepe yang menyediakan kemudahan dan berbagai sumber belajar dibidang pendidikan. Dengan penambahan kurva pengelompokkan inovasi yang tadinya sekitar 2,5 persen menjadi setidaknya 10 % maka akan berimbas pada elemen-elemen penting lainnya tidak hanya fokus pada pendidikan namun ekonomi, sosial, budaya dsb. Maka dari itu kita harus jeli melihat banyaknya inovasi yang bisa kita terapkan untuk kedepannya bagi diri sendiri dan sekitar.



SUMBER : FACEBOOK.COM/GRUPDIP

MAAF BILA HASIL POLLING SANGAT TIDAK BAGUS KARENA ADA UNSUR KESALAHAN TEKNIS. Terima Kasih




Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates