Sabtu, 10 Maret 2012

Survey atau polling pemanfaatan grup di FB dalam mata kuliah DIP (Difusi Inovasi Pendidikan)

Pendahuluan

Mata kuliah DIP (Difusi Inovasi Pendidikan) merupakan mata kuliah yang baru kami ikuti di semester 4 ini. Mata kuliah ini di bimbing oleh Prof. BP. Sitepu dan Bu Retno. Saya kira mata kuliah ini sama seperti mata kuliah pada umumnya dalam metode pengajaran yang di sampaikan. Ternyata tidak, mata kuliah ini ada nilai plus bagi saya. Yup, mata kuliah ini memanfaatkan jejaring sosial fb untuk lebih mengoptimalkan pengetahuan kami di mata kuliah ini. Jadi, tidak hanya tatap muka saja yang dilakukan rutin 1 minggu sekali, namun pemanfaatan FB yang biasanya kami lakukan untuk berkomunikasi kini menjadi media perantara untuk pembelajaran antara dosen dengan mahasiswa dalam berdiskusi melalui forum grup. Cara seperti ini menurut saya cukup efektif, karena di zaman seperti ini hampir setiap orang dari belahan dunia memiliki FB. Dalam mengakses pun sangat mudah, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja asalkan ada fasilitas penunjang (komputer, laptop, netbuk, bahkan handphone yang mempunyai fitur internet didalamnya). Situs ini jarang ada hambatan dalam kecepatan kapasitas walaupun diaskses oleh ribuan bahkan jutaan orang, dibanding web pembelajaran lainnya seperti online learning yang sering mengalami hambatan di pengaksesannya, apalagi bila dalam satu waktu bersamaan (minimal 15 orang yang mengakses web tersebut) sering mengalami kegagalan koneksi. Dan ini berdampak kurang baik pada hasil belajar mahasiswa pada umumnya, mengapa saya bilang begitu? Karena pada umumya mahasiswa jadi tidak semangat dalam merespon tugas, forum hingga mendownload materi, ujung-ujungnya bisa berpengaruh pada nilai di akhir semester. Inovasi ini walaupun terkesan sederhana tetapi fungsinya lumayan efektif dalam menambah pengetahuan kami di mata kuliah ini.



Pembahasan

Di dalam forum diadakan survey kecil-kecilan mengenai “apakah pembelajaran di FB dapat dikatakan inovasi atau tidak ?”….. Pilihannya ada 3 yaitu, “YES”, “NO”, dan “YES DAN NO”.


Dalam polling diketahui sebanyak 30 orang koresponden memiliki jawaban yang sama yaitu “YES”, walaupun pendapat yang dikemukakan berbeda. Diurutan kedua ditempati member yang tidak menjawab sebanyak 11 orang, di posisi selanjutnya 2 orang koresponden menjawab “YES DAN NO”, dan yang terakhir dengan jawaban “NO” tidak ada yang menjawab satu orang pun.
       Jadi bisa dikatakan kurang lebih sekitar 75% sepakat mengatakan pembelajaran dengan menggunakan jejaring sosial FB merupakan suatu inovasi dalam pembelajaran.


Inilah alasan-alasan koresponden memilih “YES” dalam survey tersebut. Dari 30 orang koresponden terdapat 5 kesimpulan dari alasan-alasan yang dikemukakan. Alasan terbanyak diutarakan karena tidak membosankan/monoton/lebih menyenangkan dari jawaban 8 orang koresponden. Selanjutnya dengan koresponden yang sama yaitu 6 orang terdapat tiga alasan yang berbeda, lebih efektif dan efisien, mudah dalam mengakses, meningkatkan minat belajar/memotivasi, dan yang terakhir dengan jumlah 4 orang koresponden dalam memilih alasan yes, dapat saling bertukar informasi.




Tetapi dari banyaknya koresponden yang menjawab juga ada yang lebih memilih jawaban ”YES DAN NO”, disini terdapat 2 orang koresponden namun mempunyai alasan yang berbeda. Ada yang menjawab inovasi, namun sebelumnya sudah pernah digunakan. Setelah itu alasan lainnya dikemukakan oleh koresponden lain, karena kebetulan jejaring sosial fb menyediakan fasilitas grup.

       Berhubung tidak ada yang menjawab ”NO” maka saya tidak bisa berkomentar. Tetapi banyak pula dari member grup yang tidak ikut menjawab survey tersebut. Hmm, yasudahlah. Mungkin mereka tidak sempat membuka fb.

Ini adalah hasil polling dari survey tersebut, mayoritas member banyak yang lebih memilih YES. Namun walaupun banyaknya pilihan dan alasan yang di ungkapkan berbeda-beda, kita tetap harus saling menghargai pendapat tiap koresponden, karena keberagaman sering terjadi di mana pun dan kapan pun, begitu juga hasil akhir polling.

Kesimpulannya :

Jadi, bisa dikatakan dalam survey yang di lakukan secara kecil-kecilan dari 43 member grup DIP, kurang lebih 72% (30 koresponden) memilih pemanfaatan jejaring sosial FB merupakan inovasi dalam pembelajaran antara dosen dan mahasiswa. 25% (11 orang) tidak menjawab, sisanya sebanyak 3% mengemukakan bisa dikatakan 50:50 YES DAN NO. Begitulah hasil polling yang saya amati, jika ada salah-salah penghitungan dan alasan yang dikemukakan saya mohon maaf.


sumber :
www.facebook.com/groupdip

Jumat, 09 Maret 2012

American Distance Education

Di Amerika Serikat tidak ada terintegrasi autohomous sistem pengiriman multimedia seperti orang-orang dari universitas terbuka di negara-negara lain. Ada puluhan ribu program pembelajaran bagi peserta didik yang jauh, yang disediakan oleh universitas, perguruan tinggi, sekolah, departemen pelatihan perusahaan dan angkatan bersenjata.Sebagian besar adalah disampaikan oleh seorang guru tunggal dengan menggunakan media tertentu. Sebagian besar dari apa yang diklaim untuk penelitian tentang pendidikan jarak jauh terdiri dari deskripsi tentang bagaimana satu atau lebih atau media-media komunikasi telah digunakan untuk guru untuk satu atau lebih kelas jauh. Media yang digunakan: korespondensi siaran dan video yang direkam, audio, audio-grafis, video dan komputer-konferensi.

MACAM-MACAM MEDIA YANG DIGUNAKAN UNTUK PEMBELAJARAN JARAK JAUH :

1)Korespondensi pendidikan
Siswa yang berminat melakukan proses belajar dengan melakukan surat-menyurat dengan guru atau lembaga pendidikan yang menyelenggarakannya. Guru dan lembaga pendidikan bersifat sebagai fasilitator dan siswa dituntut untuk bisa belajar mandiri. Materi pelajaran dan ujian dikirimkan memalaui pos/surat.

2)Televisi Program
Program televisi tingkat perguruan tinggi, yang dikenal sebagai telecourses, diproduksi oleh universitas, stasiun penyiaran publik dan, di atas semua, dengan perguruan tinggi. Lebih dari 1.000 institusi pasca sekolah menengah menandatangani setiap tahun untuk program disiarkan oleh Dinas Penyiaran Publik. Sebuah model diberikan dana, biasanya di kisaran 2-3 juta dolar per couses. Telecourses dibeli oleh perguruan tinggi dan universitas dan didistribusikan pada video tape atau oleh jaringan kabel lokal. 

 3)Telekonferensi
Metode pengiriman yang telah menyebabkan ledakan  kepentingan dalam pembelajaran jarak jauh di Amerika Serikat adalah teleconference, disediakan baik oleh video dua-arah, satu arah video yang disertai dengan audio dua arah, dengan audio, grafik audio, atau jaringan komputer .     Semua universitas besar memiliki satelit up-link hardware studio produksi, dan personil. Program diproduksi di tingkat sarjana dan pascasarjana, dengan proporsi besar yang untuk melanjutkan pendidikan

Pebelajar dan belajar profesional:
mereka fokus pada efektivitas umum pembelajaran di program tertentu dan menambahkan sedikit pengetahuan tentang proses belajar itu sendiri. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi variabel mahasiswa umum yang muncul untuk berinteraksi baik dengan instruksi yang disampaikan oleh media tertentu dengan maksud untuk membuat program lebih efektif.

THEORERITICAL MODEL:
memperluas konsep jarak transaksional dan menghasilkan model hubungan dinamis antara dialog dan struktur dengan menggunakan sistem yang terintegrasi dinamika (Saba, 1988; Saba dan Shearer, 1994. ).

PENGAJARAN DAN GURU:
Beaudoin (1990) yang menggambarkan peran seorang guru yang memfasilitasi belajar dari bahan-bahan studi yang disiapkan daripada transmisi informasi secara pribadi.

KESIMPULAN
Salah satu tren pendidikan di amerika saat ini  adalah penggabungan teknologi komputer dan video dan proliferasi yang sangat interaktif, media murah, komputer desktop berbasis komunikasi.


Daftar Pustaka
Moore,G.Michael.American Distance Education (pages 33-38)

THE TRENDS, DIRECTIONS AND NEEDS

Riset penelitian pada pendidikan jarak jauh :
Sepert halnya di India, aktifitas penelitian institusi merupakan suatu keutamaan/dasar dalam menentukan great/reward atas keberhasilan sebuah penelitian.
Pendidikan jarak jauh, saat ini mulai berkembang. Namun, jarang ada penelitian yang menerapkannya. Kontribusi perguruan tinggi dalam membuka diri untuk pendidikan jarak jauh ini tidak berbeda seperti yang ditunjukkan pada ulasan terakhir dari penelitian scenario DE universitas di Indian (sahoo, 1992; panda, 1992). Sebagian dari Lembaga penelitian/laboratorium didirikan untuk mengatasi konsekuensi dari penelitian yang tidak produktif yang dilakukan di universitas. Dengan tekanan dan kreativitas pada asas-asas penelitian, lembaga ini membuat kontribusi yang signifikan untuk pengetahuan, yang mana, bagaimanapun tidak mudah menemukan jalan keluar untuk disseminasi(dipecahkan). Institusi pendidikan telah memasuki fase perubahan nyata dalam perluasan progresif dan penerapan metodologi DE. Perubahan ini merupakan keharusan social, namun sering kali kita menampilkan ketidaksiapan untuk memenuhi tuntutan perubahan dan kita harus memahaminya, merencanakannya, agar efek kedepannya kita siap  mempertahankan dan membangun masa depan. 

Penelitian pada pendidikan jarak jauh : arah untuk tujuan pembangunan.
tren saat ini mengungkapkan penggunaan DE di satu sisi dan di sisi lain, tidak ada hubungan antara penelitian dan kegiatan pembangunan yang terkait. Namun, dalam konteks penelitian, jika "penelitian sebagai latihan akademis", arah baru itu harus dapat diberi label “penelitian perkembangan”, tidak ada penelitian untuk menjadi fosil (ditinggalkan), tetapi digunakan dalam meningkatkan sistem dan dengan demikian membuka cara baru menanamkan pendidikan yang lebih efektif, dengan biaya lebih rendah dan melayani tidak hanya populasi yang lebih besar tetapi juga kelompok-kelompok kecil seperti; karyawan.

Penelitian perkembangan dalam pendidikan jarak jauh: kebutuhan
untuk penelitian perkembangan seseorang harus memenuhi kebutuhan dibawah ini, antara lain: 
a. spesifisitas konteks: Guru percaya dan merasa pengajaran yang berarti yaitu memberikan ceramah, untuk itu, mengajar hal yang tepat. Ini membuat guru jarang puas dengan durasi waktu yang diizinkan untuk menutupi subjek, dan siswa merasa ditipu karena tidak semua bagian dari silabus ditutupi melalui ceramah. pada tingkat filosofis, juga pengertian konseling pada umumnya masih asing bagi rata-rata siswa di negara berkembang. Anak-anak, remaja, pemuda dan orang dewasa, semua mendapatkan masalah. Masalah diselesaikan dengan cara interaksi dalam keluarga, masalah pribadi yang dipandang sebagai isu yang hangat yang orang-orang harus memiliki pemikiran khusus untuk mengatasi masalah mereka, masalah tersebut tidak untuk tempat penampungan atau orang luar untuk mengeksplorasi.
b. ketentuan hukum: Seperti akademisi di universitas/institusi belajar pada perguruan tinggi yang melakukan penelitian dalam disiplin masing-masing ilmu. Penelitian seperti itu, berkaitan dengan disiplin masing-masing. Sedikit, jika ada, dari mereka yang melakukan penelitian dalam metodologi yang mereka gunakan dalam mengajar, maupun dalam sistem di mana mereka bekerja. Penelitian perkembangan dalam pendidikan jarak jauh lebih berkaitan metodologi pengajaran dan sistem di mana ia dioperasikan pada kedisiplinan. Disiplin berorientasi pada akademisi.
c. globalisasi: Globalisasi adalah proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronik. Globalisasi terbentuk oleh adanya kemajuan dibidang komunikasi dunia. Globalisasi terjadi karena adanya factor-faktor :
1.Selalu meningkatkan pengetahuan; 2.Patuh hokum; 3.Kemandirian; 4.Keterukaan; 5.Rasionalisasi; 6.Etos kerja; 7.Kemampuan memprediksi; 8.Efisiensi dan produktifitas; 9.Keberanian bersaing; 10.Manajemen resiko

*Globalisasi terjadi melalui berbagai saluran, di antaranya:
a. lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan; b. lembaga keagamaan; c. indutri internasional dan lembaga perdagangan; d. wisata mancanegara; e. saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional; f. lembaga internasional yang mengatur peraturan internasional; dan g. lembaga kenegaraan seperti hubungan diplomatik dan konsuler.

Unsur globalisasi yang sukar diterima masyarakat adalah sebagai berikut :
a. Teknologi yang rumit dan mahal.
b. Unsur budaya luar yang bersifat ideologi dan religi.
c. Unsur budaya yang sukar disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Unsur globalisasi yang mudah diterima masyarakat adalah sebagai berikut:
a. Unsur yang mudah disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.
b. Teknologi tepat guna, teknologi yang langsung dapat diterima oleh masyarakat.
c. Pendidikan formal di sekolah.    

DAFTAR PUSTAKA :
Trends, Directions and Needs A View from Developing countries; pages 24-30 

A PRACTICAL AGENDA FOR THEORISTS OF DISTANCE EDUCATION


Latar Belakang
Universitas Hindia Barat dibatasi oleh ruang, waktu dan uang -geografi, sejarah dan ekonomi. ltu memakan waktu lebih dari setengah hari dan US $ 350 untuk terbang dari salah satu dari dua kampus di Karibia timur. Kendala geografi telah menekan pada penggunaan pendidikan jarak jauh, yang diawali dari layanan teleconference. 

Pengalihan : Mengajar Konvensional ke Pendidikan Jarak Jauh

Menentukan apa yang harus diajarkan :
   Pendidikan jarak jauh harus sesuai dengan yang diajarkan pada tatap muka (konvensional). Tetapi keputusan itu diperlukan pertimbangan yang tepat dan tidak dengan sendirinya menentukan isi program baru, dengan konvensi, silabus dijelaskan secara singkat, sedangkan bahan belajar tentu saja dapat bervariasi tiap kampus.
   Jika kita mengikuti alur, maka desain program yang memfasilitasi dan mendorong ketingkat yang lebih tinggi dari pembelajaran dapat menyajikan kesulitan tertentu untuk pendidikan jarak jauh bagi pengajar: lebih mudah untuk merancang materi pengajaran yang mengajarkan fakta-fakta dan mudah melewati evaluasi daripada mendorong refleksivitas.
  • -          Ada organisasi yang mengatur cara belajar mandiri itu
  • -          Bahan belajar disampaikan melalui media
  • -          Tidak ada kontak langsung antara pendidik dengan peserta didik

Sistem jarak jauh dikembangkan dan dikelola dengan mengadakan pembagian tugas yang jelas antara yang mengembangkan, yang memproduksi, yang mendistribusikan bahan belajar dan yang mengelola kegiatan belajar mengajar. Bahan belajar yang berupa program media diproduksi dalam jumlah besar Kemudian didistribusikan kepada pengguna secara luas.
Menurut Gagne, Barnett dan Martin dapat disimpulkan bahwa pendidikan jarak jauh memberikan kesempatan pada tiap individu untuk mengembangkan kemampuan mulai dari intelektual hingga keterampilan dan pemahaman selain itu mengidentifikasi solusi permasalahan belajar.
Apa yang bisa kita berikan mengenai pedoman untuk menulis dan mendesain pembelajaran bagi pedagogi (ahli pendidikan) ?
Menurut berbagai ringkasan yang membahas mengenai topik, bahwa banyak pedoman praktis tentang pengembangan bahan pengajaran. Tapi literatur tersebut memiliki dua kelemahan:
1.      saran yang diberikan tidak beralasan sebagai saran yang orang inginkan. Berbagai ulasan berkomentar tentang kurangnya sesuatu yang lebih dari aturan-aturan praktis untuk membimbing memilih media
2.      banyak saran yang tersedia berasal dari tradisi intelektual yang sempit. Sekali lagi, Lewis mengidentifikasi masalah, mencatat bahwa meskipun upaya besar dilakukan untuk membuat pekerjaan, Tujuan Pendekatan Perilaku - ada keterbatasan untuk pendekatan khusus apa yang dapat dicapai di bidang pendidikan tinggi (1973, hal 196).
Membangun legitimasi jarak jauh
Bock dan Papagiannis (l983) telah menyarankan bahwa fungsi pendidikan non formal adalah berisi permintaan pendidikan untuk memenuhi kebutuhan itu. Jika itu benar untuk pendidikan jarak jauh, maka kita akan memenuhi tujuan tersebut asalkan kita merekrut siswa cukup, namun akan sulit dari mendapatkan pengesahan atau menawarkan siswa kami pendidikan yang berkualitas yang akan membutuhkan pengesahan. Dalam ulasannya sifat pendidikan tinggi Barnett menemukan konsensus yang luas bahwa:
sejumlah tujuan, nilai dan ide-ide umum tradisional dihubungkan dengan pendidikan tinggi meliputi: 
1 pencarian kebenaran dan pengetahuan obyektif; 
2 penelitian; 
3 pendidikan liberal; 
4 otonomi kelembagaan; 
5 kebebasan akademik; 
6 forum netral dan terbuka untuk perdebatan; 
7 rasionalitas; 
8 pengembangan kemampuan kritis siswa; 
9 pengembangan otonomi siswa; pembentukan karakter 
10 siswa; akan menyediakan pusat kritis dalam masyarakat; 

ltu melestarikan budaya intelektual masyarakat. Jika mencari legitimasi/pengsahan dalam pendidikan jarak jauh adalah untuk dapat melampaui pernyataan hambar, maka satu baris produktif penelitian dapat ia untuk memeriksa seberapa jauh pendidikan jarak jauh dapat atau tidak mencapai salah satu tujuan.

Melakukan Sumber Daya untuk pendidikan jarak jauh
-                                                                                     Pendidikan nasional bekerjasama dengan LPTK dan dinas pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota
-                                                                                     Pola yang diterapkan melalui program pembelajaran multimedia
-                                                                                     Adanya pelatihan khusus untuk penerapan pendidikan jarak jauh

DAFTAR PUSTAKA :
Open dan Distance; A PRACTICAL AGENDA FOR THEORISTS OF DISTANCE EDUCATION: Hilary Perraton (pages 13-20)
Google.com/sistem belajar terbuka
                                                                                      
                                                 

Link Video Pembelajaran

VIDEO PEMBELAJARAN 


MATEMATIKA BARISAN DAN DERET


http://www.youtube.com/watch?v=WYITdjDLyXI


video Pembelajaran gempa Bumi.wmv

http://www.youtube.com/watch?v=haM_aztcykg


ANIMASI BENCANA GEMPA BUMI. DAT



Kamis, 03 Maret 2011

Rabu, 05 Januari 2011

Indonesia harus berkaca pada Malaysia untuk Pendidikannya terutama Masalah Tenaga Pendidik

Tugas
Pengantar Ilmu Pendidikan

I
II
II
III
III
III
III
III
III
III
III
III
III
II
II
I



Nama : Dara Zarbiah
Momor Mahasiswa : 1215106082
Tema : Berkaca pada guru Malaysia













I. PENDAHULUAN

Latar Belakang :
    Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita
perlu terus mengembangkan dan meningkatkan mutu sumber daya manusia. Peningkatan mutu sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses
pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini  kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut.
    Pendidikan memegang peran yang  sangat penting dalam proses peningkatan mutu sumber daya manusia, pendidikan yang bermutu akan menghasilkan sumber daya manusia yang mutu pula. Menyadari pentingnya proses peningkatan mutu sumber daya manusia, maka pemerintah bersama kalangan swasta sama-sama telah dan terus berupaya mewujudkan amanat tersebut melalui berbagai  usaha pembangunan pendidikan yang lebih bermutu antara lain melalui pengembangan dan perbaikan kurikulum dan sistem evaluasi, perbaikan sarana pendidikan, pengembangan dan pengadaan materi ajar, serta pemberian pendidikan dan pelatihan  bagi guru.
   Oleh karena guru merupakan ujung tombak yang melakukan proses pembelajaran di sekolah, maka mutu dan jumlah guru perlu ditingkatkan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sekarang dan yang akan datang. Fakta tersebut mengungkapan betapa guru punya peranan terhadap keberhasilan pendidikan. Guru adalah  salah satu tenaga kependidikan yang mempunyai peran sebagai faktor penentu keberhasilan mutu pendidikan di samping tenaga kependidikan lainnya, karena guru yang langsung bersinggungan dengan peserta didik, untuk memberikan bimbingan yang muaranya akan menghasilkan tamatan yang diharapkan. Untuk itu kinerja  guru harus selalu ditingkatkan. Upaya-upaya untuk meningkatkan kinerja itu  biasanya dilakukan dengan cara memberikan motivasi,mengadakan supervisi, memberikan insentif, memberikan kesempatan yang baik untuk berkembang dalam karir, meningkatkan kemampuan, gaya kepemimpinan yang baik dan upaya-upaya lainnya yang relevan. Sementara kinerja guru dapat  ditingkatkan apabila yang bersangkutan mengetahui apa yang diharapkan dan kapan bisa menetapkan harapan-harapan yang diakui hasil kerjanya. Kinerja guru atau prestasi kerja (performance)  merupakan  hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan  tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu. Kinerja guru akan  baik jika guru telah melaksanakan unsur-unsur yang terdiri  kesetiaan dan komitmen yang   tinggi pada  tugas  mengajar, menguasai dan mengembangkan  bahan pelajaran,  kedisiplinan dalam mengajar dan tugas lainnya, kreativitas dalam pelaksanaan pengajaran, kerjasama dengan semua warga sekolah, kepemimpinan yang menjadi panutan siswa, kepribadian yang baik, jujur dan obyektif dalam membimbing siswa, serta tanggungjawab terhadap tugasnya. Oleh karena itu tugas Kepala Sekolah selaku manager adalah melakukan penilaian terhadap kinerja guru. Penilaian ini penting untuk dilakukan mengingat fungsinya sebagai alat motivasi dari pimpinan kepada guru maupun bagi guru itu sendiri.

II. Perumusan Masalah

a.      Mengapa mutu pendidikan diIndonesia masih kalah dengan Malaysia ?
b.     Apa yang menyebabkan itu semua ?
c.     Apa peran pemerintah dalam memajukan pendidikan Indonesia khususnya tenaga didik ?

a.      Ketika Indonesia masih berkutat pada upaya pemerataan pendidikan lewat pembangunan SD-SD Inpres, Malaysia sudah berbicara pada tataran peningkatan kualitas pendidikan. Ketika Indonesia masih disibukkan perdebatan soal "ganti menteri ganti kurikulum", Malaysia sudah menggagas apa yang mereka sebut pendemokrasian pendidikan. 
Lalu, ketika tokoh dan birokrat pendidikan di Indonesia sibuk berdebat tentang apa dan bagaimana sesungguhnya sistem pendidikan nasional; belakangan tentang wacana seputar pendanaan pendidikan minimal 20 persen dari APBN/APBD. Sedang Malaysia sudah bicara tentang bagaimana strategi mewujudkan suatu sistem pendidikan bertaraf Internasional.
Dan itu tidak main-main. Keinginan untuk go international langsung dituangkan dalam rumusan misi utama Kementerian Pendidikan Malaysia, yang berbunyi, "Mewujudkan sistem pendidikan bertaraf dunia bagi merealisasikan potensi sepenuhnya setiap individu, di samping memenuhi aspirasi masyarakat Malaysia."
Pada saat bersamaan, untuk memupuk semangat kebersamaan dan perpaduan kaum di antara anak negeri, lembaga pendidikan dirancang sebagai tiang penyangga utama. Melalui konsep yang dinamakan "Sekolah Wawasan" dengan tradisi mendidik lewat pendekatan "meluntur buluh biarlah dari rebungnya", konflik perkauman yang cenderung berlarut-larut di banyak negara diharapkan tidak merembes ke wilayah negeri ini.

Proyek perintisan "Sekolah Wawasan" ini dimulai sejak tahun 2001, sebagai kelanjutan "Program Integrasi Sekolah" yang coba diperkenalkan tahun 1986, dengan memberi peluang anak-anak dari berbagai etnis dan golongan bercampur-gaul satu sama lain melalui berbagai aktivitas dan program di luar ruang belajar. Untuk mewujudkan proyek tersebut, pada tahap awal, Pemerintah Kerajaan Malaysia menyediakan anggaran RM 46,2 juta (Ringgit Malaysia; 1 RM setara 2.650 rupiah). Pada tahun kedua, anggaran itu dinaikkan hampir dua kali lipat menjadi RM 76,7 juta.Di atas segala-galanya, seperti pernah dikemukakan mantan Menteri Pendidikan Malaysia YB Tan Sri Dato’ Musa bin Mohamad, "Semua itu tidak akan membawa arti apa-apa sekiranya dalam kegairahan memperluas peluang pendidikan itu kita tidak memberi tekanan setimpal pada mutu pendidikan." Di sini, kata kuncinya adalah mutu!

b.     Di sekolah Malaysia pada umumnya , disiplin menjadi semacam "panglima". Untuk itu, ada buku panduan khusus, ysng disebutnya sebagai tools management. Di dalam buku panduan yang juga disebarkan kepada para orangtua murid itu diatur hingga amat detail tentang hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan. Aturan itu berlaku untuk semua. Tak ada pengecualian, bahkan terhadap anak pejabat sekalipun. Bila si anak melakukan kesalahan yang masuk kategori berat; seperti menyontek, merokok, atau berkelahi, ancamannya diskors hingga dikeluarkan dari sekolah. Aturan-aturan itu tidak sekadar di atas kertas, tetapi benar-benar dilaksanakan. Tidak seperti di Indonesia, di sini jarang sekali terdengar aksi protes guru-guru yang berstatus pegawai kerajaan menyangkut aspek kesejahteraan. Ini bisa dipahami. Dengan gaji RM 2 ribu perbulan bagi guru yang baru diangkat yang biasanya masih berstatus lajang. Tentu mereka tak terlalu dipusingkan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Apalagi guru senior . Di luar jabatan strukturalnya sebagai wakil kepala sekolah, rata-rata guru-guru berpengalaman di Malaysia digaji kerajaan sekitar RM 9 ribu alias sekitar 23 juta rupiah perbulan. Di luar pendapatan rutin bulanan itu, pihak kerajaan masih memberi sokongan dan berbagai kemudahan bagi guru untuk menaikkan status sosial mereka. Pinjaman pembelian rumah dan kendaraan (baca: mobil), tentu saja dengan bunga yang amat rendah, bisa diperoleh guru setelah mengabdikan diri dalam rentang waktu tertentu kepada kerajaan. Penghargaan masyarakat kepada guru (warga setempat menyebutnya Cekgu) juga cukup tinggi sehingga status sosial guru dalam kehidupan sehari-hari mendapat tempat terhormat. Iklim yang demikian tentu amat mendukung lahirnya guru-guru yang profesional. Tanpa harus digembar-gemborkan pejabat yang berwenang, sebagaimana sering terdengar di negeri ini, profesionalitas di kalangan guru datang dengan sendirinya setelah kebutuhan dan penghargaan terhadap mereka diberikan pihak kerajaan dan stakeholders pendidikan. Di Kota Kuching sebagai pusat pemerintahan Negara Bagian Sarawak misalnya, tak terdengar berita ada guru yang telah digaji kerajaan, mengajar di lebih dari satu sekolah. Dengan begitu, perhatian mereka pada tugas dan tanggung jawab sebagai guru menjadi lebih terfokus. Lebih dari itu, kesempatan mereka untuk bisa mengembangkan diri agar memiliki tampilan dan sosok sebagai pendidik sejati terbuka lebar. Setiap ada perkembangan baru, taruhlah seperti ada kurikulum baru, guru-guru di serawak diantar berkursus. Seluruh biaya untuk aktiviti itu ditanggung oleh kerajaan,
Pada era 1960-an hingga 1970-an, Pemerintah Malaysia banyak mengirim pelajar-pelajarnya ke lembaga pendidikan bergengsi di luar negeri, seperti Inggris, Australia, dan Amerika Serikat. Umumnya, sepulang dari belajar di luar negeri, mereka inilah yang kemudian menjadi pimpinan di banyak lembaga pemerintahan di negeri ini. Disokong mereka yang menamatkan pendidikan di dalam negeri, termasuk mantan Perdana Menteri Mahatir Mohammad yang menyelesaikan pendidikan di Singapura, bidang pendidikan menjadi perhatian.Pada saat bersamaan, pada tahun 1970-an itu berdatangan para sukarelawan dari Australia, Inggris, Selandia Baru, dan Amerika Serikat ke kawasan Semenanjung Malaya serta Sabah dan Sarawak. Mereka bergerak di berbagai bidang kehidupan, termasuk di ikut terlibat dalam bidang pendidikan. Secara tidak langsung kehadiran para sukarelawan dari luar negeri ini ikut meningkatkan taraf pendidikan Malaysia. Bahkan, beberapa di antara para sukarelawan itu ada yang akhirnya tetap tinggal di Malaysia, Namun, sudah diketahui luas, di era 1970-an itu cukup banyak guru-guru dari Indonesia diminta Pemerintah Kerajaan Malaysia untuk mengajar di negeri jiran itu. Kini, setelah hampir 30 tahun lebih berlalu, Malaysia berhasil menuai buah dari usaha yang mereka tanam. Tantangan pendidikan yang mereka hadapi tidak lagi menyangkut hal-hal mendasar, seperti ambruknya gedung-gedung sekolah dan tingkat kesejahteraan guru, tetapi pada berbagai input lain dari pendidikan sebagai sebuah proses. Taruhlah seperti upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan tenaga pengajar yang tidak boleh berhenti pada satu titik. Sebaliknya, kemampuan-kemampuan itu tetap dan selalu harus terus diasah, seiring dengan kemajuan pesat yang berkembang di luar ruang kelas.
Berkat konsistensi antara keinginan dan sikap Pemerintah Kerajaan Malaysia akan pentingnya dunia pendidikan bagi kemajuan bangsa, seperti telah mereka buktikan antara lain lewat penyediaan anggaran yang cukup signifikan (hingga 23 persen dari total anggaran negara) untuk bidang ini, institusi pendidikan di negeri ini telah menjadi pusat tolehan bagi berbagai kepentingan. 

c.  - Insan Pendidikan Patut Mendapatkan Penghargaan Karena itu Berikanlah Penghargaan

    -  Meningkatkan profesionalisme Guru dan Pendidik

    - Sebisa mungkin kurangi dan berantas korupsi
    - Berikan sarana dan prasarana yang layak


Bab III. Penutup

Kesimpulan
Pendidikan memegang peran yang  sangat penting dalam proses peningkatan mutu sumber daya manusia, pendidikan yang bermutu akan menghasilkan sumber daya manusia yang mutu pula. Namun pendidikan kita masih kalah dengan negara Malaysia khususnya tenaga didik. Upaya pun dilakukan pemerintah mulai menaikkan kesejahteraan guru sampai memberikan prasarana yang layak untuk di nikmati. Tetapi itu semua masih dirasakan kurang. Kelayakan itu semua hanya bisa dirasakan oleh guru yang sudah mendapat pegawai tetap atau pegawai negeri sipil. Guru honorer tidak mendapatkan itu semua mereka hanya mendapatkan gaji sementara saja. Inilah yang menjadi kesenjangan antara guru di Indonesia. Hingga proses belajar pun tidak maksimal.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates