Sabtu, 31 Maret 2012

Filsafat Ilmu (Objek Material dan Objek Formal)

A.    Pendahuluan
Kata filsafat, yang dalam bahasa Arab dengan istilah falsafah dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah philosophy adalah berasal dari bahasa Yunani philosophia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yang berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom), sehingga secara etimologi istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian, seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pythagoras (582-496 SM). Arti filsafat pada saat itu belum begitu jelas, kemudian pengertian filsafat itu diperjelas seperti yang banyak dipakai sekarang ini dan juga digunakan oleh Socrates (470-399 SM) dan para filsuf lainnya. (Lasiyo dan Yuwono, 1985, hlm. 1).
Menurut Plato filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang asli. Sedangkan menurut Aristoteles, filsafat adalah ilmu (pengetahuan)yang meliputi kebenaran yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat keindahan).

B.  Objek Filsafat
Objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek, yang dibedakan menjadi duan,yaitu objek material dan objek formal.
1.    Objek Material filsafat
Objek material adalah suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek material juga adalah hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek material mencakup apa saja, baik hal-hal konkret ataupun hal yang abstrak.
Objek material dari filsafat ada beberapa istilah dari para cendikiawan, namun semua itu sebenarnya tidak ada yang bertentangan.
1.       Mohammad Noor Syam berpendapat, ’Para ahli menerangkan bahwa objek filsafat itu dibedakan atas objek material atau objek materiil filsafat; segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, baik materiil konkret, psikis maupun nonmateriil abstrak, psikis. Termasuk pula pengertian abstrak-logis, konsepsional, spiritual, dan nilai-nilai. Dengan demikian, objek filsafat tidak terbatas’. (Mohammad Noor Syam, 1981, hlm. 12)
2.     Poedjawijatna berpendapat, ’jadi, objek material filsafat ialah ada dan yang mungkin ada. Dapatkah dikatakan bahwa filsafat itu keseluruhan dari segala ilmu yang menyelidiki segala sesuatunya juga?’ Dapat dikatakan bahwa objek filsafat yang kami maksud adalah objek materialnya-sama dengan objek material dari ilmu seluruhnya. Akan tetapi, filsafat tetap filsafat dan bukan merupakan kumpulan atau keseluruhan ilmu’. (Poedjawijatna, 1980, hlm.8)
3.     H.A Dardiri berpendapat, objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada, baik yang ada dalam pikiran, ada dalam kenyataan maupun ada dalam kemungkinan’. Kemudian, apakah gerangan segala sesuatu yang ada itu?
Segala sesuatu yang ada dapat dibagi dua, yaitu
1.       ada yang bersifat umum, dan
2.     ada yang bersifat khusus
Ilmu yang menyelidiki tentang hal ada pada umumnya disebut ontologi. Adapun ada yang bersifat khusus dibagi dua, yaitu ada yang mutlak, dan ada yang tidak mutlak. Ilmu yang menyelidiki alam disebut kosmologi dan ilmu yang menyelidiki manusia disebut antropologi metafisik. (H.A. Dardiri, 1986, hlm. 13-14)

Setelah meneropong berbagai pendapat dari para ahli diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa objek material dari filsafat sangat luas mencakup segala sesuatu yang ada.
Adapun permasalahan dalam kefilsafatan mengandungciri-ciri seperti yang dikemukakan Ali Mudhofir (1996), yaitu sebagai berikut.
a.            Bersifat sangat umum. Artinya, persoalan kefilsafatan tidak bersangkutan dengan objek-objek khusus. Sebagian besar masalah kefilsafatan ide-ide besar. Misalnya, filsafat tidak menanyakan ’’berapa harta yang Anda sedekahkan dalam satu bulan?’’ Akan tetapi, filsafat menanyakan ’’apa keadilan itu?’’
b.            Tidak menyangkut fakta disebabkan persoalan filsafat lebih bersifat spekulatif. Persoalan yang dihadapi dapat melampaui pengetahuan ilmiah.
c.            Bersangkutan dengan nilai-nilai (values), artinya persoalan kefilsafatan bertalian dengan nilai, baik nilai moral, estetis, agama, dan sosial. Nilai dalam pengertian ini adalah suatu kuaitas abstrak yang ada pada sesuatu hal.
d.            Bersifat kritis, artinya filsafat merupakan analisis secara kritis terhadap konsep dan arti yang biasanya diterima dengan begitu saja oleh suatu ilmu tanpa pemeriksaan secara kritis.
e.            Bersifat sinoptik, artinya persoalan filsafat mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan. Filsafat merupakan ilmu yang membuat susunan kenyataan sebagai keseluruhan.
f.            Bersifat implikatif, artinya kalau sesuatu persoalan kefilsafatan sudah dijawab, dari jawaban tersebut akan memunculkan persoalan baru yang saling berhubungan. Jawaban yang dikemukakan mengandung akibat lebih jauh yang menyentuh berbagai kepentingan manusia.

2. Objek Formal Filsafat
    Objek formal, yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu disorot. Objek formal suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain. Satu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda. Misalnya, objek materialnya adalah ’’manusia’’ dan manusia ini ditinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantaranya psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya.
      Objek formal filsafat, yaitu sudut pandangan yang menyeluruh, secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya. (Lasiyo dan Yuwono, 1985, hlm. 6). Oleh karena itu, yang membedakan antara filsafat dengan ilmu-ilmu lain terletak dalam objek material dan objek formalnya. Kalau dalam ilmu-ilmu lain objek materialnya membatasi diri, sedangkan pada filsafat tidak membatasi diri. Adapun pada objek formalnya membahas objek materialnya itu sampai ke hakikat atau esensi dari yang dihadapinya.

Perbedaan objek material dan objek formal filsafat ilmu
Objek material filsafat merupakan suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.  Sedangkan Objek formal filsafat ilmu tidak terbatas pada apa yang mampu diindrawi saja, melainkan seluruh hakikat sesuatu baik yang nyata maupun yang abstrak.
Obyek material filsafat ilmu itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan objek formal filsafat ilmu (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris. objek material mempelajari secara langsung pekerjaan akal dan mengevaluasi hasil-hasil dari objek formal ilmu itu dan mengujinya dengan realisasi praktis yang sebenarnya.  Sedangkan Obyek formal filsafat ilmu menyelidiki segala sesuatu itu guna mengerti sedalam dalamnya, atau mengerti obyek material itu secara hakiki, mengerti kodrat segala sesuatu itu secara mendalam (to know the nature of everything). Obyek formal inilah sudut pandangan yang membedakan watak filsafat dengan pengetahuan. Karena filsafat berusaha mengerti sesuatu sedalam dalamnya.
Obyek material Filsafat ilmu yaitu segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, baik materi konkret, psisik, maupun yang material abstrak, psikis. Termasuk pula pengertian abstrak-logis, konsepsional, spiritual, nilai-nilai. Dengan demikian obyek filsafat tak terbatas, yakni segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Objek material filsafat adalah segala yang ada. Segala yang ada mencakup ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Objek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain. ada yang tampak adalah dunia empiris, sedangkan ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosof membagi objek material filsafat atas tiga bagian, yaitu yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam pikiran dan yang ada dalam kemungkinan.
Kesimpulan
Dari beberapa perbedaan pengertian diatas pada dasarnya kedua objek filsafat ilmu tersebut menjelaskan bahwa filsafat ilmu merupakan kajian filosofis terhadap hal-hal yang berkaitan dengan ilmu, dengan kata lain filsafat ilmu merupakan upaya pengkajian dan pendalaman mengenai ilmu (Ilmu Pengetahuan/Sains), baik itu ciri substansinya, pemerolehannya, ataupun manfaat ilmu bagi kehidupan manusia. Pengkajian tersebut tidak terlepas dari acuan pokok filsafat yang tercakup dalam bidang ontoiogi, epistemologi, dan axiologi dengan berbagai pengembangan dan pendalaman yang dilakukan oleh para akhli.
Filsafat ilmu berusaha mengkaji hal tersebut guna menjelaskan hakekat ilmu yang mempunyai banyak keterbatasan, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang padu mengenai berbagai fenomena alam yang telah menjadi objek ilmu itu sendiri. Pada dasarnya filsafat atau berfilsafat bukanlah sesuatu yang asing dan terlepas dari kehidupan sehari-hari, karena segala sesuatu yang ada dan yang mungkin serta dapat difikirkan bisa menjadi objek filsafat apabila selalu dipertanyakan, difikirkan secara radikal guna mencapai kebenaran.
Tiap-tiap manusia yang mulai berfikir tentang diri sendiri dan tentang tempat-tempatnya dalam dunia akan menghadapi beberapa persoalan yang begitu penting, sehingga persoalan-persoalan itu boleh diberi nama persoalan-persoalan pokok yaitu apa dan siapakah manusia, dan apakah hakekat dari segala realitas, apakah maknanya, dan apakah intisarinya. Sehingga menggambarkan objek filsafat itu adalah antara lain : Truth (kebenaran), Matter (materi), Mind (pikiran), The Relation of matter and mind (hubungan antara materi dan pikiran), Space and Time (ruang dan waktu), Cause (sebab-sebab), Freedom (kebebasan), Monism versus Pluralism (serba tunggal lawan serba jamak), God (Tuhan).
Dapat dibayangkan betapa luas dan mencakupnya objek filsafat baik dilihat dari substansi masalah maupun sudut pandangnya terhadap masalah, sehingga dapat disimpulkan bahwa objek filsafat adalah segala sesuatu yang terwujud dalam sudut pandang dan kajian yang mendalam (radikal). Dan untuk memudahkan mempelajarinya para ahli membagi objek-objek filsafat ilmu tersebut kedalam objek material dan objek formal filsafat ilmu.


SUMBER :
  1. Suhartono, Suparlan. 2004. Dasar-dasar Filsafat. Yogyakarta: Ar-Ruzz.
  2. Suriasomantri, Jujun S. 1996. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
  3. Mustansyir, R dan Munir M. 2003. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  4. Surajiyo. 2008. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta; PT Bumi Aksara
http://sang-pemikir.blogspot.com/2008/12/objek-material-dan-objek-formal.htm

Sabtu, 10 Maret 2012

Survey atau polling pemanfaatan grup di FB dalam mata kuliah DIP (Difusi Inovasi Pendidikan)

Pendahuluan

Mata kuliah DIP (Difusi Inovasi Pendidikan) merupakan mata kuliah yang baru kami ikuti di semester 4 ini. Mata kuliah ini di bimbing oleh Prof. BP. Sitepu dan Bu Retno. Saya kira mata kuliah ini sama seperti mata kuliah pada umumnya dalam metode pengajaran yang di sampaikan. Ternyata tidak, mata kuliah ini ada nilai plus bagi saya. Yup, mata kuliah ini memanfaatkan jejaring sosial fb untuk lebih mengoptimalkan pengetahuan kami di mata kuliah ini. Jadi, tidak hanya tatap muka saja yang dilakukan rutin 1 minggu sekali, namun pemanfaatan FB yang biasanya kami lakukan untuk berkomunikasi kini menjadi media perantara untuk pembelajaran antara dosen dengan mahasiswa dalam berdiskusi melalui forum grup. Cara seperti ini menurut saya cukup efektif, karena di zaman seperti ini hampir setiap orang dari belahan dunia memiliki FB. Dalam mengakses pun sangat mudah, bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja asalkan ada fasilitas penunjang (komputer, laptop, netbuk, bahkan handphone yang mempunyai fitur internet didalamnya). Situs ini jarang ada hambatan dalam kecepatan kapasitas walaupun diaskses oleh ribuan bahkan jutaan orang, dibanding web pembelajaran lainnya seperti online learning yang sering mengalami hambatan di pengaksesannya, apalagi bila dalam satu waktu bersamaan (minimal 15 orang yang mengakses web tersebut) sering mengalami kegagalan koneksi. Dan ini berdampak kurang baik pada hasil belajar mahasiswa pada umumnya, mengapa saya bilang begitu? Karena pada umumya mahasiswa jadi tidak semangat dalam merespon tugas, forum hingga mendownload materi, ujung-ujungnya bisa berpengaruh pada nilai di akhir semester. Inovasi ini walaupun terkesan sederhana tetapi fungsinya lumayan efektif dalam menambah pengetahuan kami di mata kuliah ini.



Pembahasan

Di dalam forum diadakan survey kecil-kecilan mengenai “apakah pembelajaran di FB dapat dikatakan inovasi atau tidak ?”….. Pilihannya ada 3 yaitu, “YES”, “NO”, dan “YES DAN NO”.


Dalam polling diketahui sebanyak 30 orang koresponden memiliki jawaban yang sama yaitu “YES”, walaupun pendapat yang dikemukakan berbeda. Diurutan kedua ditempati member yang tidak menjawab sebanyak 11 orang, di posisi selanjutnya 2 orang koresponden menjawab “YES DAN NO”, dan yang terakhir dengan jawaban “NO” tidak ada yang menjawab satu orang pun.
       Jadi bisa dikatakan kurang lebih sekitar 75% sepakat mengatakan pembelajaran dengan menggunakan jejaring sosial FB merupakan suatu inovasi dalam pembelajaran.


Inilah alasan-alasan koresponden memilih “YES” dalam survey tersebut. Dari 30 orang koresponden terdapat 5 kesimpulan dari alasan-alasan yang dikemukakan. Alasan terbanyak diutarakan karena tidak membosankan/monoton/lebih menyenangkan dari jawaban 8 orang koresponden. Selanjutnya dengan koresponden yang sama yaitu 6 orang terdapat tiga alasan yang berbeda, lebih efektif dan efisien, mudah dalam mengakses, meningkatkan minat belajar/memotivasi, dan yang terakhir dengan jumlah 4 orang koresponden dalam memilih alasan yes, dapat saling bertukar informasi.




Tetapi dari banyaknya koresponden yang menjawab juga ada yang lebih memilih jawaban ”YES DAN NO”, disini terdapat 2 orang koresponden namun mempunyai alasan yang berbeda. Ada yang menjawab inovasi, namun sebelumnya sudah pernah digunakan. Setelah itu alasan lainnya dikemukakan oleh koresponden lain, karena kebetulan jejaring sosial fb menyediakan fasilitas grup.

       Berhubung tidak ada yang menjawab ”NO” maka saya tidak bisa berkomentar. Tetapi banyak pula dari member grup yang tidak ikut menjawab survey tersebut. Hmm, yasudahlah. Mungkin mereka tidak sempat membuka fb.

Ini adalah hasil polling dari survey tersebut, mayoritas member banyak yang lebih memilih YES. Namun walaupun banyaknya pilihan dan alasan yang di ungkapkan berbeda-beda, kita tetap harus saling menghargai pendapat tiap koresponden, karena keberagaman sering terjadi di mana pun dan kapan pun, begitu juga hasil akhir polling.

Kesimpulannya :

Jadi, bisa dikatakan dalam survey yang di lakukan secara kecil-kecilan dari 43 member grup DIP, kurang lebih 72% (30 koresponden) memilih pemanfaatan jejaring sosial FB merupakan inovasi dalam pembelajaran antara dosen dan mahasiswa. 25% (11 orang) tidak menjawab, sisanya sebanyak 3% mengemukakan bisa dikatakan 50:50 YES DAN NO. Begitulah hasil polling yang saya amati, jika ada salah-salah penghitungan dan alasan yang dikemukakan saya mohon maaf.


sumber :
www.facebook.com/groupdip

Jumat, 09 Maret 2012

American Distance Education

Di Amerika Serikat tidak ada terintegrasi autohomous sistem pengiriman multimedia seperti orang-orang dari universitas terbuka di negara-negara lain. Ada puluhan ribu program pembelajaran bagi peserta didik yang jauh, yang disediakan oleh universitas, perguruan tinggi, sekolah, departemen pelatihan perusahaan dan angkatan bersenjata.Sebagian besar adalah disampaikan oleh seorang guru tunggal dengan menggunakan media tertentu. Sebagian besar dari apa yang diklaim untuk penelitian tentang pendidikan jarak jauh terdiri dari deskripsi tentang bagaimana satu atau lebih atau media-media komunikasi telah digunakan untuk guru untuk satu atau lebih kelas jauh. Media yang digunakan: korespondensi siaran dan video yang direkam, audio, audio-grafis, video dan komputer-konferensi.

MACAM-MACAM MEDIA YANG DIGUNAKAN UNTUK PEMBELAJARAN JARAK JAUH :

1)Korespondensi pendidikan
Siswa yang berminat melakukan proses belajar dengan melakukan surat-menyurat dengan guru atau lembaga pendidikan yang menyelenggarakannya. Guru dan lembaga pendidikan bersifat sebagai fasilitator dan siswa dituntut untuk bisa belajar mandiri. Materi pelajaran dan ujian dikirimkan memalaui pos/surat.

2)Televisi Program
Program televisi tingkat perguruan tinggi, yang dikenal sebagai telecourses, diproduksi oleh universitas, stasiun penyiaran publik dan, di atas semua, dengan perguruan tinggi. Lebih dari 1.000 institusi pasca sekolah menengah menandatangani setiap tahun untuk program disiarkan oleh Dinas Penyiaran Publik. Sebuah model diberikan dana, biasanya di kisaran 2-3 juta dolar per couses. Telecourses dibeli oleh perguruan tinggi dan universitas dan didistribusikan pada video tape atau oleh jaringan kabel lokal. 

 3)Telekonferensi
Metode pengiriman yang telah menyebabkan ledakan  kepentingan dalam pembelajaran jarak jauh di Amerika Serikat adalah teleconference, disediakan baik oleh video dua-arah, satu arah video yang disertai dengan audio dua arah, dengan audio, grafik audio, atau jaringan komputer .     Semua universitas besar memiliki satelit up-link hardware studio produksi, dan personil. Program diproduksi di tingkat sarjana dan pascasarjana, dengan proporsi besar yang untuk melanjutkan pendidikan

Pebelajar dan belajar profesional:
mereka fokus pada efektivitas umum pembelajaran di program tertentu dan menambahkan sedikit pengetahuan tentang proses belajar itu sendiri. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi variabel mahasiswa umum yang muncul untuk berinteraksi baik dengan instruksi yang disampaikan oleh media tertentu dengan maksud untuk membuat program lebih efektif.

THEORERITICAL MODEL:
memperluas konsep jarak transaksional dan menghasilkan model hubungan dinamis antara dialog dan struktur dengan menggunakan sistem yang terintegrasi dinamika (Saba, 1988; Saba dan Shearer, 1994. ).

PENGAJARAN DAN GURU:
Beaudoin (1990) yang menggambarkan peran seorang guru yang memfasilitasi belajar dari bahan-bahan studi yang disiapkan daripada transmisi informasi secara pribadi.

KESIMPULAN
Salah satu tren pendidikan di amerika saat ini  adalah penggabungan teknologi komputer dan video dan proliferasi yang sangat interaktif, media murah, komputer desktop berbasis komunikasi.


Daftar Pustaka
Moore,G.Michael.American Distance Education (pages 33-38)

THE TRENDS, DIRECTIONS AND NEEDS

Riset penelitian pada pendidikan jarak jauh :
Sepert halnya di India, aktifitas penelitian institusi merupakan suatu keutamaan/dasar dalam menentukan great/reward atas keberhasilan sebuah penelitian.
Pendidikan jarak jauh, saat ini mulai berkembang. Namun, jarang ada penelitian yang menerapkannya. Kontribusi perguruan tinggi dalam membuka diri untuk pendidikan jarak jauh ini tidak berbeda seperti yang ditunjukkan pada ulasan terakhir dari penelitian scenario DE universitas di Indian (sahoo, 1992; panda, 1992). Sebagian dari Lembaga penelitian/laboratorium didirikan untuk mengatasi konsekuensi dari penelitian yang tidak produktif yang dilakukan di universitas. Dengan tekanan dan kreativitas pada asas-asas penelitian, lembaga ini membuat kontribusi yang signifikan untuk pengetahuan, yang mana, bagaimanapun tidak mudah menemukan jalan keluar untuk disseminasi(dipecahkan). Institusi pendidikan telah memasuki fase perubahan nyata dalam perluasan progresif dan penerapan metodologi DE. Perubahan ini merupakan keharusan social, namun sering kali kita menampilkan ketidaksiapan untuk memenuhi tuntutan perubahan dan kita harus memahaminya, merencanakannya, agar efek kedepannya kita siap  mempertahankan dan membangun masa depan. 

Penelitian pada pendidikan jarak jauh : arah untuk tujuan pembangunan.
tren saat ini mengungkapkan penggunaan DE di satu sisi dan di sisi lain, tidak ada hubungan antara penelitian dan kegiatan pembangunan yang terkait. Namun, dalam konteks penelitian, jika "penelitian sebagai latihan akademis", arah baru itu harus dapat diberi label “penelitian perkembangan”, tidak ada penelitian untuk menjadi fosil (ditinggalkan), tetapi digunakan dalam meningkatkan sistem dan dengan demikian membuka cara baru menanamkan pendidikan yang lebih efektif, dengan biaya lebih rendah dan melayani tidak hanya populasi yang lebih besar tetapi juga kelompok-kelompok kecil seperti; karyawan.

Penelitian perkembangan dalam pendidikan jarak jauh: kebutuhan
untuk penelitian perkembangan seseorang harus memenuhi kebutuhan dibawah ini, antara lain: 
a. spesifisitas konteks: Guru percaya dan merasa pengajaran yang berarti yaitu memberikan ceramah, untuk itu, mengajar hal yang tepat. Ini membuat guru jarang puas dengan durasi waktu yang diizinkan untuk menutupi subjek, dan siswa merasa ditipu karena tidak semua bagian dari silabus ditutupi melalui ceramah. pada tingkat filosofis, juga pengertian konseling pada umumnya masih asing bagi rata-rata siswa di negara berkembang. Anak-anak, remaja, pemuda dan orang dewasa, semua mendapatkan masalah. Masalah diselesaikan dengan cara interaksi dalam keluarga, masalah pribadi yang dipandang sebagai isu yang hangat yang orang-orang harus memiliki pemikiran khusus untuk mengatasi masalah mereka, masalah tersebut tidak untuk tempat penampungan atau orang luar untuk mengeksplorasi.
b. ketentuan hukum: Seperti akademisi di universitas/institusi belajar pada perguruan tinggi yang melakukan penelitian dalam disiplin masing-masing ilmu. Penelitian seperti itu, berkaitan dengan disiplin masing-masing. Sedikit, jika ada, dari mereka yang melakukan penelitian dalam metodologi yang mereka gunakan dalam mengajar, maupun dalam sistem di mana mereka bekerja. Penelitian perkembangan dalam pendidikan jarak jauh lebih berkaitan metodologi pengajaran dan sistem di mana ia dioperasikan pada kedisiplinan. Disiplin berorientasi pada akademisi.
c. globalisasi: Globalisasi adalah proses penyebaran unsur-unsur baru khususnya yang menyangkut informasi secara mendunia melalui media cetak dan elektronik. Globalisasi terbentuk oleh adanya kemajuan dibidang komunikasi dunia. Globalisasi terjadi karena adanya factor-faktor :
1.Selalu meningkatkan pengetahuan; 2.Patuh hokum; 3.Kemandirian; 4.Keterukaan; 5.Rasionalisasi; 6.Etos kerja; 7.Kemampuan memprediksi; 8.Efisiensi dan produktifitas; 9.Keberanian bersaing; 10.Manajemen resiko

*Globalisasi terjadi melalui berbagai saluran, di antaranya:
a. lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan; b. lembaga keagamaan; c. indutri internasional dan lembaga perdagangan; d. wisata mancanegara; e. saluran komunikasi dan telekomunikasi internasional; f. lembaga internasional yang mengatur peraturan internasional; dan g. lembaga kenegaraan seperti hubungan diplomatik dan konsuler.

Unsur globalisasi yang sukar diterima masyarakat adalah sebagai berikut :
a. Teknologi yang rumit dan mahal.
b. Unsur budaya luar yang bersifat ideologi dan religi.
c. Unsur budaya yang sukar disesuaikan dengan kondisi masyarakat.

Unsur globalisasi yang mudah diterima masyarakat adalah sebagai berikut:
a. Unsur yang mudah disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat.
b. Teknologi tepat guna, teknologi yang langsung dapat diterima oleh masyarakat.
c. Pendidikan formal di sekolah.    

DAFTAR PUSTAKA :
Trends, Directions and Needs A View from Developing countries; pages 24-30 

A PRACTICAL AGENDA FOR THEORISTS OF DISTANCE EDUCATION


Latar Belakang
Universitas Hindia Barat dibatasi oleh ruang, waktu dan uang -geografi, sejarah dan ekonomi. ltu memakan waktu lebih dari setengah hari dan US $ 350 untuk terbang dari salah satu dari dua kampus di Karibia timur. Kendala geografi telah menekan pada penggunaan pendidikan jarak jauh, yang diawali dari layanan teleconference. 

Pengalihan : Mengajar Konvensional ke Pendidikan Jarak Jauh

Menentukan apa yang harus diajarkan :
   Pendidikan jarak jauh harus sesuai dengan yang diajarkan pada tatap muka (konvensional). Tetapi keputusan itu diperlukan pertimbangan yang tepat dan tidak dengan sendirinya menentukan isi program baru, dengan konvensi, silabus dijelaskan secara singkat, sedangkan bahan belajar tentu saja dapat bervariasi tiap kampus.
   Jika kita mengikuti alur, maka desain program yang memfasilitasi dan mendorong ketingkat yang lebih tinggi dari pembelajaran dapat menyajikan kesulitan tertentu untuk pendidikan jarak jauh bagi pengajar: lebih mudah untuk merancang materi pengajaran yang mengajarkan fakta-fakta dan mudah melewati evaluasi daripada mendorong refleksivitas.
  • -          Ada organisasi yang mengatur cara belajar mandiri itu
  • -          Bahan belajar disampaikan melalui media
  • -          Tidak ada kontak langsung antara pendidik dengan peserta didik

Sistem jarak jauh dikembangkan dan dikelola dengan mengadakan pembagian tugas yang jelas antara yang mengembangkan, yang memproduksi, yang mendistribusikan bahan belajar dan yang mengelola kegiatan belajar mengajar. Bahan belajar yang berupa program media diproduksi dalam jumlah besar Kemudian didistribusikan kepada pengguna secara luas.
Menurut Gagne, Barnett dan Martin dapat disimpulkan bahwa pendidikan jarak jauh memberikan kesempatan pada tiap individu untuk mengembangkan kemampuan mulai dari intelektual hingga keterampilan dan pemahaman selain itu mengidentifikasi solusi permasalahan belajar.
Apa yang bisa kita berikan mengenai pedoman untuk menulis dan mendesain pembelajaran bagi pedagogi (ahli pendidikan) ?
Menurut berbagai ringkasan yang membahas mengenai topik, bahwa banyak pedoman praktis tentang pengembangan bahan pengajaran. Tapi literatur tersebut memiliki dua kelemahan:
1.      saran yang diberikan tidak beralasan sebagai saran yang orang inginkan. Berbagai ulasan berkomentar tentang kurangnya sesuatu yang lebih dari aturan-aturan praktis untuk membimbing memilih media
2.      banyak saran yang tersedia berasal dari tradisi intelektual yang sempit. Sekali lagi, Lewis mengidentifikasi masalah, mencatat bahwa meskipun upaya besar dilakukan untuk membuat pekerjaan, Tujuan Pendekatan Perilaku - ada keterbatasan untuk pendekatan khusus apa yang dapat dicapai di bidang pendidikan tinggi (1973, hal 196).
Membangun legitimasi jarak jauh
Bock dan Papagiannis (l983) telah menyarankan bahwa fungsi pendidikan non formal adalah berisi permintaan pendidikan untuk memenuhi kebutuhan itu. Jika itu benar untuk pendidikan jarak jauh, maka kita akan memenuhi tujuan tersebut asalkan kita merekrut siswa cukup, namun akan sulit dari mendapatkan pengesahan atau menawarkan siswa kami pendidikan yang berkualitas yang akan membutuhkan pengesahan. Dalam ulasannya sifat pendidikan tinggi Barnett menemukan konsensus yang luas bahwa:
sejumlah tujuan, nilai dan ide-ide umum tradisional dihubungkan dengan pendidikan tinggi meliputi: 
1 pencarian kebenaran dan pengetahuan obyektif; 
2 penelitian; 
3 pendidikan liberal; 
4 otonomi kelembagaan; 
5 kebebasan akademik; 
6 forum netral dan terbuka untuk perdebatan; 
7 rasionalitas; 
8 pengembangan kemampuan kritis siswa; 
9 pengembangan otonomi siswa; pembentukan karakter 
10 siswa; akan menyediakan pusat kritis dalam masyarakat; 

ltu melestarikan budaya intelektual masyarakat. Jika mencari legitimasi/pengsahan dalam pendidikan jarak jauh adalah untuk dapat melampaui pernyataan hambar, maka satu baris produktif penelitian dapat ia untuk memeriksa seberapa jauh pendidikan jarak jauh dapat atau tidak mencapai salah satu tujuan.

Melakukan Sumber Daya untuk pendidikan jarak jauh
-                                                                                     Pendidikan nasional bekerjasama dengan LPTK dan dinas pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota
-                                                                                     Pola yang diterapkan melalui program pembelajaran multimedia
-                                                                                     Adanya pelatihan khusus untuk penerapan pendidikan jarak jauh

DAFTAR PUSTAKA :
Open dan Distance; A PRACTICAL AGENDA FOR THEORISTS OF DISTANCE EDUCATION: Hilary Perraton (pages 13-20)
Google.com/sistem belajar terbuka
                                                                                      
                                                 

Link Video Pembelajaran

VIDEO PEMBELAJARAN 


MATEMATIKA BARISAN DAN DERET


http://www.youtube.com/watch?v=WYITdjDLyXI


video Pembelajaran gempa Bumi.wmv

http://www.youtube.com/watch?v=haM_aztcykg


ANIMASI BENCANA GEMPA BUMI. DAT



Kamis, 03 Maret 2011

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates